Jejakmu...

Jejak kecil yang kau tinggalkan
Melemparkanku pada keajaiban penuh makna
Dan dengan segala cinta yang ku punya
Kubiarkan angan kita mengembara.


jejakmu masih tertinggal di sini...
jelas sekali...
sesekali ku lihat lekat...
sesekali ku acuhkan buang muka...

aku berusaha berlari menjauh...
tapi entah kenapa...
derap langkahku...
kembali membawaku menatap jejakmu...

sudah ku biarkan angan ini mengembara...
melewati tataran khatulistiwa...
menembus langit berjuta gemerlap...
tapi jejaknya tetap di sini...

Peluk...

Menahun kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja

Pelukku
Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku
Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran hati
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau dideranya

Kusadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama
Berdua namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau kulepas
Selamanya
Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau dideranya

Lepaskanku segenap hati dan jiwamu
Dan tak layak kau didera
Kau didera…

Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja
Pelukku


*"mengertilah walau hanya sedikit...",ucapku dulu...
namun kita tidak lagi...
aku tidak lagi butuh dimengerti...
biar saja...asa melambung...tapi kupastikan, kakiku tetap berpijak di bumi...

lalu kamu???
akan ku lepas saja...

sekali cinta...tetap cinta...

Masih menikmati begini...
dikelilingi oleh para pejuang pena...

Walau setiap malam harus berjuang membiarkan mata tetap terbuka...
tapi entah kenapa...rasanya luar biasa...

Cuma anak bungsu yang masih dikasih banyak kesempatan...
buat belajar dengan tekun..

Belajar mengetahui...sulitnya berjuang mencari berita...
susahnya mengemas berita jadi layak dipercaya...
setengah matinya memutar otak...menyampaikan informasi secara sehat...

ahhh...aku mencintai pekerjaan ini...
walau hanya lepas dan nyambi...

Sekali cinta...aku tetap cinta...

Menunggu

Bila menunggu satu purnama saja sudah terasa begitu sulit...
Bagaimana menunggu puluhan purnama...???

Ya lagi-lagi...ego harus dikubur dalam-dalam...
agar kekuatannya tak mengunci akal sehat dan kesabaran kita dalam ruang sempitnya...

Tapi...sisi hati yang lain berteriak-teriak...
Aku cuma manusia biasa...berdalih dengan seribu raut tak bersalah...

Ya...menunggu itu memang melelahkan...
Tapi ingatlah...
Hal yang indah itu datang tidak secara cuma-cuma..
melewati masa panjang dan penantian tersendiri...

Sama seperti saat Ali dengan ikhlas menunggu keberaniannya datang untk bisa melamar Fatimah...
Atau seperti Nabi Yusuf as yang dengan segala keikhlasan menjalani masa-masa penantian kebebasannya dari penjara...
Atau kah, mencontoh kesabaran Siti Sarah menanti buah hati yang lama diidamkan...
Dan, mencontek peristiwa kesabaran Siti hajar dan Nabi Ismail as yang menanti Nabi Ibrahim di tengah gurun pasir tak berpenghuni...

ya..ya...
Menunggu itu...
INDAH..

Melewati 2 Senja Lalu...

Melewati 2 senja lalu...

Baru saja ku kenal...
dalam nuansa abu-abu yang begitu pekat...
tanpa rasa untuk tahu...
tanpa tahu untuk apa...

Melewati 2 senja lalu...

Bertanya pada hati...
tentang segenap duga yang menyelimuti...
lalu dia memastikan hati...
bahwa dia ada disini...

Melewati 2 senja lalu...

Aku yang berdiri memandangi langit...
merasakan angin yang berhembus...
menikmati aroma tanah basah...
dalam hujan bersamanya...

Melewati 2 senja lalu...

Percaya atau tidak...
ini nyata tanpa reka...
tapi hati ini mulai bergerak...
ke arah rasa tak terduga...

Melewati 2 senja lalu...

Pernah ada ragu...
bahkan prasangka...
tapi matanya...
menguras habis ragu dan sangka...

Melewati 2 senja lalu...

Dengan 2 sensasi rasa...

Dengan 2 akhir...

Yang berbeda...

Tentang Rasa...

Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
‘tuk sejenak lelap di bahumu

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya


Lirik lagu astrid ini, entah kenapa jadi terasa aneh saya dengar.
Bukan karena lagunya tidak enak...tapi karena terjadi sesuatu di hati saya saat saya mendengarnya...

huft...

Sudahlah...

Thanks Astrid buat lagunya yang bagus...

Kesakitan Sang "Angsa Bengawan"

Pagi ini dapat postingan email dari seorang sahabat dekat di majalah. Isinya lumayan panjang, menceritakan kisahnya dengan calon nya. Awalnya saya menikmati membaca tiap katanya dengan penuh senyum, sampai pada akhirnya saya menemukan kalimat seperti ini...

"Tidak semuanya indah seperti rencana, hingga komitmen itu hancur karena sebuah pilihan yang menyakitkan, saya menganggapnya sebagai ketidak adilan atas cinta saya yang sudah saya peram agar manis diakhirnya bersamanya"

Tiba-tiba saja saya bisa merasakan kesakitan yang tertuang dalam surat elektronik itu. Saya membayangkan "angsa bengawan" yang biasanya periang itu, kini tengah menangis di atas bantalnya. Merasakan kesakitan akibat patahnya cinta yang nyaris membunuhnya seketika.

"Masa lalu itu memang tidak bisa dibeli, bila indah maka keindahannya tidak akan bisa terbeli bahkan oleh masa sekarang sekalipun. Bila menyakitkan maka kesakitannya akan terus terasa."

Bait diatas seketika membawa saya pada bayang-bayang masa lalu. Ya, masa lalu memang begitu adanya, selalu saja tak ingin ditinggalkan, menguntit ke sana kemari, mencoba terlihat untuk diingat dan dikenang.

"Dia yang saya percaya untuk menjaga hati saya, nyatanya mengalah pada masa lalu dan akhirnya membuang masa sekarangnya dengan segala pengakuan yang membuat saya tak bisa bernafas."

Ya Latief...apa ini? Kenapa Engkau mengarahkan pikirku pada kejadian akhir-akhir ini? Saya berusaha berpikir positif untuk tidak cepat mengambil kesimpulan atas apa yang saya ketahui masih sangat dangkal.

"Sulit melupakan cinta pertama yang terlalu memberi arti pada hati yang telah lama gersang. Saya menyadari benar hal itu, dan saya sangat mengerti. Tapi saya merasa ini tidak adil untuk saya. Karena saya harus terluka karena cinta masa lalunya."

Hatiku lantah seketika, akhirnya zihar sudah inti permasalahannya. Tapi sya tidak berani melanjutkan membaca email itu sampai ke ending nya. Saya mencoba menguatkan hati saya sendiri.

"De, apa saya salah bila saya merasa ini tidak adil untuk saya? Bukankah saya pantas marah dan kecewa atas semua perlakuannya? Saya tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali keperihan yang teramat menyakitkan ini. Dari awal saya berkomitmen, tiduk untuk main-main layaknya remaja saat ini. Saya serius untuk melanjutkan semua ke arah yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Dia memilih kembali pada masa lalunya. Meninggalkan saya di persimpangan jalan yang sepi ini...sendirian."

Seperti memakan buah maja, pahit sekali saya membacanya...getir sekali apa yang tiba-tiba menyelinap ke kalbu saya. "Angsa bengawan" yang biasanya tegas dalam mengurai fakta soal kebusukan politik, kini harus tersungkur lemah pada kepahitan cinta.

Beberapa kali saya melihat mbakku sang "angsa bengawan" diantar jemput pangerannya itu. Mereka tampak begitu serasi. Mbak ku yang manis dengan perawakan ramping dan memepesona, dan pangerannya yang terlihat tegap dan penuh wibawa. Mereka sangat ideal untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih. Kami di kantor redaksi sudah memastikan mereka akan naik pelaminan awal tahun ini. Dan aku pernah mendengar pangeran itu mengiyakan.

Tapi rencana tak selalu berjalan mulus. Toh pada kenyataannya, saat ini semua sudah terbukti, bahwa dia lebih memilih cinta masa lalunya ketimbang gadis cantik dan baik hati seperti mbakku yang sudah hampir 3 tahun menyirami ketandusan hatinya yang pernah gagal dalam bercinta. Hati kecilku pun berkata, ini memang tidak adil untuk mbakku.

Tapi cobalah tengok kata-kata terakhirnya yang membuat saya makin mengaguminya...

"Jiwa ini memang kadang merana karena ditinggal cinta, tapi cinta sebetulnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya beranjak menemukan peraduan ternyamannya. Lalu memanggil kita kembali untuk merasakan mesranya. Saya hanya berpikir bahwa Allah mungkin mengatakan ini bukan yang terbaik untuk saya. Saya hanya kuat dengan keyakinan ini, bahwa entah diujung dunia mana dan garis waktu kapan, Allah sudah menyiapkan seorang pria terbaik untuk saya, pria yang saya harapkan manjadi kekasih saya dikehidupan setelah kematian, pria yang dengan tegas mampu memilih hidupnya untuk sebisa mungkin tak menyakiti hati siapa pun, pria yang siap menggenggam tangan saya menuju taman Firdaus-Nya. Saya sepenuhnya meyakini hal itu."

Kesakitan yang saya rasakan di dua malam ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang menyayat yang dirasakan sang "angsa bengawan". Untukmu salah satu penulis terbaik di kawanan "Para Penjelajah", saya tidak akan pernah lelah menyebut namamu dalam setiap doa-doa saya. Semoga Allah membahagiakanmu mbak.

3 Hati...2 Dunia...1 Cinta...

Indah saat bersama
Tepiskan semua rasa
Cinta ini tak pernah mengerti

Cinta hempaskan sayapmu
Bawa aku terbang jauh
Lewati dua dunia

Cinta pegang semua rasa
Lengkapkanlah mimpi hati
Jalani satu cinta kita

Senyum hangat manjamu
Luluhkan dingin hatiku
Cinta ini tiga hati

Mungkin kita tak akan bisa
Selamanya bersama
Kita harus mengerti
Cinta..

Tiga hati dua dunia satu cinta
Tiga hati dua dunia satu cinta

.......Ghaury; OST. 3 Hati 2 Dunia 1 cinta.........


*Original soundtracknya oceh dah...
film nya juga recomended banget buat ditonton...
banyak nilai-nilai sosial yang menyadarkan kita betapa berharganya arti orang tua, betapa dalamnya makna cinta, sejauh mana cinta dapat berperang melawan keyakinan, dan bagaimana hati mampu merelakan cinta pergi demi kebaikan bersama...
dan bagaimana membuat kita tak pernah kalah dalam cinta.....

Setelah sekian lama...Bintang Bungsu kembali juga...

Sudah lama tidak main ke kubik nyamanku...
masih tetap biru...
masih tetap sederhana...
lukisan wajahku tetap terpajang manis di sudut nya...
bangkunya pun masih nyaman untuk diduduki...
tidak ada yang berubah...

Aku berjalan mengitari ruang penuh inspirasi itu...
dan pandangku langsung tertuju pada whiteboard di ujung ruang tengah...
aku melihatnya seksama...
tertawa kecil membaca celotehan-celotehan jenaka di dalamnya...
dan ku sadari...
nama Bintang Bungsu sudah absent terlalu lama dalam meramaikan papan itu...

Biasanya aku rajin menulis setiap kali datang...
walau hanya kata SEMANGAT dengan 3 tanda seru...
atau sekedar kalimat, "Lihat inspirasi berterbangan di mana-mana"...
aku senang...

Sudah lama memang tidak membaur dengan Para Penjelajahku yang luar biasa...
minum teh bersama...
duduk di pinggir jalan, memandangi langit, bintang, dan gemerlap lampu Rasuna...
atau makan kacang di balkon lantai 3 sambil membahas berita terhangat di negeri ini...
sudah lama memang...

Setelah kubik mungilku...
ruang selanjutnya yang ku sambangi adalah ruang Phoenix ku yang sangat ku rindukan...
betapa senangnya aku, saat aku bisa menatap sepasang wajah menyejukan itu...
ku peluk sang phoenix betina...dan si jantan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya...

setelah puas bercengkrama singkat namun berkualitas itu...
aku menuju tengah ruangan...
berdiri diatas meja kecil yang biasa kami sebut mimbar...
ya tentunya karena meja itu sering kali dinaiki oleh yang lain saat ada woro-woro penting...
sekarang aku yang naik dan sedikit berteriak...
"apa kabar para penjelajahku?"

sontak saja mereka kaget, bahkan ada yang kopinya sampai tumpah saking kagetnya...
tapi semua tak adayang marah...
ingat sekali...
saat mbak Bian justru balik berteriak, "Bungsuku datang lagi..."
atau mas Langit, yang melemparku dengan pesawat-pesawatan sambil bicara, "dah lama gelap ni, kemane aje bintang bungsu?"
Beda lagi mas seno yang daritadi serius memandang laptopnya, " Setelah sekian lama, Bintang Bungsu kembali juga..."
mereka menghampiriku sekejap...
mengerubungiku seperti layaknya perompak yang hendak melumat mangsanya...

kecupan manis dari mbak-mbakku tercinta...
pipiku sampai basah...
hehehe...
sedangkan mas-mas gantengku cuma bisa nyolek-nyolek aku dengan pena nya...
sambil tertawa geli...

wah...senangnya bisa datang lagi...
setelah itu, sepasang phoniex mengajak kami semua untuk duduk di pinggir jalan...
ternyata mereka berdua sudah memesan roti bakar, martabak manis, dan cakwe goreng untuk dinikmati bersama...
Tak lupa meminta OB untuk membuatkan kami teh tubruk mantap...

Di bawah langit Rasuna...
Para Penjelajah menikmati malam dalam tatapan berbeda...
memaknai malam pada sisi berbeda...
imajinasi mereka luas terbentang...
aku percaya itu...

mereka menikmati malam...
sedangkan aku...
sambil menikmati malam...
aku juga tengah menikmati pemandangan magis lainnya...
menatapi wajah-wajah penuh semangat, inspirasi, dan ide-ide brilian...
wajah-wajah keluarga ku yang tengah menikmati Keagungan Sang Latief dengan caranya masing-masing...

Puji syukur bagi-Mu Ya Allah...
yang telah menyampaikan ku ke malam indah ini...
yang telah memberi kesempatan aku menghirup hawa cita dan cinta yang kuat ini...

Jagalah ukhuwah kami selalu ya Allah...

Tunjuk Satu Bintang...

Coba kau tunjuk satu bintang
S'bagai pedoman langkah kita
Ya...begitulah mengapa saya ingin jadi bintang...ya karena hakikat bintang yang satu itu yang menyadarkan saya bahwa hakikat hidup haruslah seperti ini pula. Menjadi manusia yang bisa menjadi membawa perubahan untuk kemashlahatan ummat, menjadi manusia yang bisa mengubah wajah kotor dunia menjadi wajah ceria diselimuti syari'ah. Lewat media apapun, sekalipun hanya lewat pena. Dan mungkin Allah telah membawa saya pada arus untuk memeriahkan bumi lewat pena. Berjuang melesatkan mimpi saya agar kiranya kalian mampu men-jabat erat hasil karyaku…Hingga terbias warna syahdu...


Akan ku ukir satu kisah tentang kita
Semuanya saya awali menulis tentang saya, dan sahabat-sahabat saya. Inspirasi pertama dalam dunia kepenulisan saya...kalian...sobat sejati saya. Maka betapa inginnya saya menumpahkan segalanya tentang kalian dalam induk cerita bertajuk "Tentang Kita", dimana baik dan buruk terangkum oleh indah.

Lalu selanjutnya Akan ku cerna semua karya cipta kita
, mencernanya dalam memori, hati, dan pikiran saya tentang semua hal yang membuat saya mampu terus membiarkan jari-jari saya mengurai makna dalam "Tentang Kita". Lalu akan tiba saat dimana saya harus mengeluarkan segala bentuk kemampuan saya mengeksplorasi hati saya untuk mampu merangkai cetakan yang didalamnya terurai semua dimana hitam dan putih terbalut oleh hangatnya cinta.

Dan bila semua terwujudkan...
Maka saya akan sangat bangga karena mampu menempatkan kalian sebagai sumber inspirasi sekaligus penyemangat saya untuk tetap bertahan berdiam lama di depan laptop, membuat saya kuat untuk terus merangkai tiap kata demi mengejar deadline. Saya benar-benar merasa beruntung Allah menggariskan jalan hidup saya bertemu dengan sosok-sosok penuh warna seperti kalian. Kalian luar biasa. Atas semua yang sudah saya capai, terima kasih banyak dan ini semua untuk kalian...

Teruntuk semua nama yang berhasil menyentuh hatiku, menyuntikan semangat ke darahku, mengalirkan ceria ke raut wajahku...

Di sisimu s'lalu hariku

Tunjuk Satu Bintang
Sheila on 7

ya...aku malu...

Bila aku mau...
maka aku akan membisu...
dalam bisu itu...
ada harap yang semoga saja tak semu...

Aku merebahkan diri pada bantalan nasib...
menoleh ke sisi kiri pada rimbunan ruput kering tajam yang masuk ke sela-sela jari...
lalu melempar pandang pada jajaran tulip warna-warni yang bergoyang seirama di sisi kananku...

Laluaku menatap surya...
mengutarakan tanya lewat pandang...
tanpa nyata suara...
berbisik sendu padanya lewat nurani...
mempertanyakan semua yang ku pandang...

kemudian aku berceloteh kecil tentang diriku...
membuka sisi mendung yang terpendam...
lalu aku membuka ruang memoriku...
melihat keindahan dan aroma segar perjalanan hidupku...

Tiba-tiba aku merasa..
terjebak kabut pekat abu-abu...
aku menunduk malu...
pada jejakku yang kaku...

ya...aku malu...
dan aku beruntung masih bisa merasa malu...

Beautiful Girl

Beautiful girl, wherever you are
I knew when I saw you, you had opened the door
I knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again.

You said "hello" and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again.

It was destiny's game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whenever you are, I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I've loved again after a long, long while
I've loved again.

Beautiful girl, I'll search on for you
'Til all of your loveliness in my arms come true
You've made me love again after a long, long while
In love again
And I'm glad that it's you
Hmm, beautiful girl.




*Berharap lagu ini dinyanyikan oleh seseorang untukku...
seseorang yang namanya telah tertulis di Lau Mahfudz sebagai jodohku...

Mata...Bintang...Arah...

Beberapa hari yang lalu saya berbincang akrab dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai reporter. Perbincangan kami memang agak aneh namun sangat menyenangkan. Malam itu kami berdiri di depan jendela lantai tiga tempat kami menghabiskan segenap kelihaian jari kami menata kata.

Dia bilang,"Langit indah betul,De".
"Ya, indah banget mbak...kayaknya bakal betah berlama-lama di sini" Jawab ku seadanya.

Saya tau dia sedang memikirkan hal yang pastinya tak biasa orang lain pikirkan.

"Kamu beruntung dapat nama Bintang Bungsu, De", katanya memecah senyap.
"Iya mabak...rasanya terlalu luar biasa Hny dipanggil seperti itu" Lagi-lagi saya hanya menjawab seadanya.

Setelah kalimat ku barusan, saya hanya memperhatikan dia yang sibuk melenggangkan pandang ke arah langit. Terkadang tersenyum, seperti menghitung, sesekali menunduk tegang. Tapi entah kenapa, saya sangat menikmati menonton raut mukanya yang berganti-ganti itu.

"Kau tau kenapa kami begitu mudah menamakanmu Bintang Bungsu?" Tanyanya dalam hening.
Saya pun menggeleng perlahan, seraya menunjukkan ekspresi wajah penuh keingintahuan.

"Kami lihat itu dimata mu,De. Kamu tau apa yang pertama Poenix kita ceritakan tentang interview mu pada kami? Dia tidak membahas tulisanmu, dia juga tak menceritakan jalannya diskusi kalian, tapi dia menceritakan mata mu, dan yang ada di baliknya".

Saya sejenak mengingat-ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu saat saya pertama kali bertemu dan berbicara pada sepasang Poenix luar biasa yang saya temui.

"Dia melihat banyak bintang di mata mu..."

Jujur saja, saat itu saya benar-benar merasa sangat Gede Rasa alias GR. Sebenarnya saya merasa bahwa memang kelebihan dan anugerah yang Allah berikan pada saya salah satunya adalah mata saya. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa ada orang lain yang menangkap hal-hal tak biasa dari mata saya, bahkan yang sama sekali tidak saya ketahui.

"De, terangkan pada saya kenapa kamu suka bintang?" Dia mengagetkan ku.
"Hemm...Hny suka bintang karena cahayanya mampu memecah kegelapan malam. Bintang itu benar-benar penghias langit malam yang mampu menambah kesyahduan malam. Bintang yang kadang harus mengalah pada mendung, tapi tak pernah lelah bersinar. Bintang yang berpijar nyata bernama matahari, yang menjadikan siang begitu benderang. Satu hal lagi, bintang yang Hny kagumi karena keelokan bentuknya yang berperan sebagai penunjuk arah."

Dia menatapku lekat, lalu membalikkan pandang pada langit yang kali itu benar-benar terlihat sangat indah.

Lalu dia berkata lagi, "Kalimat terakhir itu, De. Harapan kami saat nama itu kami berikan untukmu. Indah tak sekedar rupawan, menyala tak sekedar terang, tapi bersinar dengan sejuta manfaat yang nyata. Penunjuk arah...saya suka itu"

Entah kenapa, saya justru terpaku dan membisu saat dia melontarkan kata-kata itu. Ringan sekali dia berujar, tapi sangat dalam untuk dijabar. Ahh...penulis gila ini membuatku tertegun. Saya kembali melihat wajahnya yang tirus, matanya yang cekung dan tajam, hidungnya yang mancung, dan dagunya yang runcing. Saya perhatikan terus, dia memang cantik dan terlihat sangat cerdas. Saya jadi malu pada panggilan saya sendiri. Saya seketika merasa tidak pantas mendapat penggilan itu.

Dan lagi-lagi dia mengagetkan saya,"Kamu pantas dipanggil itu, De".
Ahh...biarkan saya menyembunyikan sesuatu dalam pikiran saya. Saya yang merasa sudah ditebak jalan pikirnya, cuma bisa tersenyum. Malam yang benar-benar indah bersama seorang wanita cerdas sepertinya.

Setelah itu pun, dia menarik tangan saya, mengajak saya pulang. Sambil berkata,"Bintang Bungsu jangan redup ya!!! Sekarang kita pulang, istirahat untuk menjaga pijar nyala ruh kita"

Ahh...senangnya disayang dan dicintai seperti ini...
Saya sayang Mbak Bian...
Saya sayang kalian Para Penjelajah...

Jangan tanya "kenapa" padaku...

aku ingin melepas penat dihamparan padang rumput hijau...
merebahkan badan diantara rumput-ruput yang bergoyang seiring angin...

melepas penat...sambil menangis...
sendiri...
kenapa sendiri???
karena aku ingin menangisi kesedihanku sendiri...
tanpa ada kata "kenapa"

namun pilu rasanya saat rimbunnya rumput itu sama sekali tak menjawab getar hatiku...
tak merespon teriakku...
hanya bergoyang tanpa hirau padaku...

karena itu...
aku ingin menangis...
dihadapan kalian...karib sejatiku...
bukan ingin menyusahkan atau membuat kalian resah melihatku...
tapi aku butuh anggukan kepala...
usapan di kepala, kata-kata manis menyejukan...

aku ingin menangis dihadapan kalian...
dalam rengkuh tangan kalian...
menggenggam erat jemari kalian...

satu yang ku pinta...
jangan tanya "kenapa" padaku...

Jumat Brilliant

Hemmm....gak lembur...
menyenangkan sekali...
bisa istirahat di rumah...

Jumat Brilliant...
Tau gak kenapa???
karena hari ini, aku bisa masak full menu tanpa bantuan siapa pun...
dari mulai belanja sampai nyajiin di meja makan...

Sambel goreng kentang-ati...
Ayam geprek...
Sayur daun singkong...
Sambeli iji pake teri...

emmm....yummi...

Ayah bilang,"emm...enak juga, gini donk ini baru anak gadis ayah!"
(dalam hati aku berpikir, jadi selama ini aku anak gadis siapa???)
Mama nyeletuk,"kalo pinter anak ayah, kalo nakal anak mama!"
(hahaha...nyindir banget)
Adeku nyamber,"bisa juga masak, dikirain cuma bisa makan...hahaha"
(comment yang menyebalkan...)

Apapun komentarnya, yang jelas ini kesuksesan besar dalam karier memasakku...(lebay)
mudah-mudahan bisa terus dipertahankan, supaya kalo dah berkeluarga gak bingung lagi.

emmm....ayah juga bilang gini, "kalo masakannya dah enak gini mah baru boleh nikah..."
hahaha...cuma dimulut...
kenyataannya ayah pasti belum rela melepas anak gadis semata wayangnya ini...
apalagi dah mulai bisa masak...
apa bisa serela itu..???

Jumat brilliant...
mudah-mudahan berlanjut ada sabtu brilliant, minggu brilliant, senin brilliant....
pokoknya semua hari kudu jadi brilliant...

semangat Bintang bungsu!!!

Kepingan Kisah D4

Kelas itu....tak terlalu besar, agak gelap, urutan ke2 dari belakang, berhadapan dengan UKS yang kemudian jadi ruang Mading...

dari situlah.....semua berawal....Kelas 2 D....SMP 91 Jakarta

.......................***....................................................

Tahun tengah, awal kisah kami dimulai...
Berasal dari kelas yang berebda saat kelas 1, tak membuat kami menjadi sungkan atau tak bisa menyesuaikan diri...
bersaing dalam nilai akademik, juga sama sekali tidak membuat kami ada dalam wilayah persaingan busuk kelas teri...
Kami yang bertemu dalam suasana yang cukup aneh...merasa dekat dalam pembicaraan yang aneh...

................................................F4.............................................

Perkenalkan....
Si rame Henny Pratiwi...
Si energik Vinna Marwa...
Si lugu Yossy Eko Arimbi...
Si ceria Dwi Indah Setiawahyuni...
Si kalem Maya Widyasrini...

Dipersatukan karena F4...
masih ingatkan tentang boyband asal.....(asal mana c mereka?)yang terkenal dengan serial "Meteor Garden".
Sebenernya c waktu itu yang ngefans berat ma mereka cuma Vinna (Jerry Yan), Imbi (Ken Zu), dan Dwi Indah (Vic Zou), sedangkan aku dan Maya hanya penggembira yang lama-kelamaan terpengaruh mereka bertiga. terpengaruh untuk memihak salah satu dari idola mereka....
Aku akhirnya memihak Imbi untuk sedikit memberi kesempatan Ken Zu untuk membnagun opiniku tentang dia yang menurut Imbi ganteng itu. Sedangkan Maya....aggghhh jujur saja sampai saat ini aku gak tau dia akhirnya memihak siapa....

Secara tidak langsung F4 telah berperan besar dalam terbentuknya Genk luar biasa di kelas 2D itu....Genk pertamaku....(hahaha...sebenarnya aku terpingkal0pingkal menyebut D4 sebagai sebuah Genk).

D4....kalau ada yang berpikir kami menamakan D4 karena ingin mirip F4...emmm terkaan itu agak kurang tepat...itu hanya kebetulan saja...
D4....lebih tepatnya karena kami kelas 2D....D itu huruf ke empat...jadi deh D4....
dan terima kasih untuk Vinna yang mencetuskan nama itu untuk pertama kalinya...
hingga akhirnya D4 menjadi identitas kami sampai masa kelulusan SMP...

kami melewati banyak hal...gak cuma yang manis-manis tapi juga yang sedih bahkan pahit...
dari mulai masalah di sekolah, keluarga, hingga masalah si merah jambu....
lucu kalau mengingatnya.....
Jujur saja....mereka adalah orang-orang yang mengajarkanku arti sahabat sesungguhnya...
dan mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku....

Persaingan di kelas 2 kami hadapi bersama, bahu membahu dalam belajar. Bergiliran ke rumah personil D4 untuk belajar kelompok, nonton film India, joget2 bareng, atau sekadar ketawa-ketawi gak jelas...
Kami selalu ingin bersama dalam setiap kelompok kerja...ikut ekskul yang sama "Mading"...dan ikut camping sama-sama.....

Indah banget mengenang masa-masa luar biasa itu...

Persahabatan itu terus berlanjut sampai ke kelas 3...
bersama menghadapi tantangan senagai Anak Baru Gede...yang harus pintar menemukan jati diri...
persahabatan kami gak lurus-lurus aja...
malah di kelas 3 kami banyak menemui hal-hal yang nyaris merusak persahabatan indah kami...
dalam banyak hal...khususnya soal si merah jambu....
hahaha...kekanak-kanakan sekali kami saat itu....
tapi ya itulah persahabatan kami....
namun di tahun ke-3 pula lah kami menemukan anggota baru.....
Triana Lestari...sang pendatang baru...
sempet Dwi Indah bilang,"sekarang namanya D4 plus"...
hahaha...entah apakah itu sebuah pengesahan atau celotehan belaka...
tapi yang pasti...kami kehadiran belahan jiwa yang lain...
saudara baru....yang akhirnya melengkapi khazanah sifat dan prilaku D4 plus....

Hari-hari di SMP waktu itu sangat menyenangkan...
hingga kami harus terpisah karena kata "kelulusan"....
Ahhh...sedih sekali rasanya membayangkan harus pisah dari wajah-wajah penuh tawa itu...
tak bisa membayangkan akan jarang melihat senyum dan tawa mereka yang meledak itu....

Entah mengapa aku merasa menjadi yang paling sedih....

Ya...karena aku harus menjalani bagian dari takdirku....sekolah Di Sekolah Menengan Analis Kimia Bogor...yang kata orang jauh, sibuk, gak ada waktu main...
sedangkan mereka sekolah di SMA di jakarta yang berdekatan, bahkan 1 sekolah...
Imbi, Vinna di SMA 39...
Maya di SMA 8...
Nana dan Dwi Indah di SMA 99...

Terbukti sudah....ternyata benar...akulah yang sering absent saat mereka kumpul-kumpul...
aku yang nyaris tak pernah setor muka saat mereka bercengkrama bersama....
Agghhh....aku sedih....

.....................................................*****...................................................

Allah selalu punya rencana yang Maha Dahsyat untuk hamba-hambanya...
sekarang kami tumbuh menjadi gadis-gadis remaja dengan umur rata-rata 21 tahun di tahun 2010 ini...
kami tengah meniti jalan hidup kami...
berjuang meraih mimpi-mimpi kami....
Aku menjalani rutinitasku sebagai seorang Analis Kimia sekaligus mahasiswi jurusan kimia di STMIPA Bogor dna nyambi jadi penulis lepas....
Vinna sibuk menjalani keluar biasaan karunia-Nya di STAN...
Imbi asyik mengarungi mimpinya menjadi dokter gigi di UNPAD...
Dwi indah menikmati ngitung-ngitung di Trisakti jurusan accounting....
Nana sedang meniti ilmu managment di Bakrie University...
Maya asyik meraih cita sebagai arsitek di UI....

Aku beruntung punya sahabat-sahabat yang sangat luar biasa seperti kalian...
Do'aku untuk kesuksesan kalian selalu terucap di akhir sholatku...
Aku rindu kenangan 8 tahun yang lalu....ingin rasanya terulang kembali...

Sahabat....D4 Plus....akan menjadi kepingan romansa terindah yang terbingkai apik di hati kita...
setiap saat dapat dilihat dan dibuka....
Sahabat pertama yang aku miliki....

Sungguh.....
Aku mencintai kalian karena Allah.....

Para Penjelajah

Mereka menamakan dirinya "Para Penjelajah"
Lekat dengan pena, kertas, laptop, perekam suara, dan yang terpenting...NYALI...

Saat datang, ramainya bukan main...
berteriak menyapa ke seluruh ruangan...
mengetuk tiap kubik dengan senyuman...

mereka yang ku kenal baru 2 minggu...
telah berhasil menghipnotisku untuk benar-benar mencintai....berita....

"para penjelajah" yang selalu terlihat santai walau dalam tekanan...
terlihat biasa saat diburu deadline...

mereka yang punya nama unik untuk menyebut dirinya...
terkadang nama itu dicetusnya sendiri...kadang hasil aklamasi rekan-rekannya...
tapi apapun itu...mereka sangat bangga dengan nama itu...

Luar biasa...kini aku menjadi bagian dari "para Penjelajah" ulung itu..
Mereka sering meneriakiku dengan sebutan..."pendatang bungsu"...
Menghujaniku dengan senyum yang tak henti-henti...
Mengguyur habis diriku dengan guyonan khas "para penjelajah"

Tapi kemarin...ada yang sedikit berbeda...
ku datangi kubik mungilku...
dan kulihat sebuah kotak yang di atasnya terdapat sepucuk surat...inilah isinya...

"Selamat datang duhai pendatang baru...
Selamat berjuang hai pendatang bungsu...
semoga cita, asa, mimpimu terwujud dengan pasti...
semoga ruangan ini mampu menjadi ruang ekspresi terbaik imaji dan pemikiranmu...
buka setiap pintu jiwa dan pikiran...
jangan takut berkata bila itu benar...jangan takut mengungkapkan bila itu nyata...
karena apa yang kita cari saat ini...hanya punya satu landasan pokok...kejujuran...

Selamat datang di ruang canda penuh khasanah...
bersama kami Para Penjelajah...
dan kini kau adalah bagian dari kami...
siapkan dirimu...

untukmu...
"Bintang Bungsu...."

jadi ingin mengeluarkan air mata...
dan saat ku buka kotaknya...
hahaha...terkesima...tak habis pikir...
sebuah figura cantik warna biru berhias kupu-kupu emas di sudutnya...
dan ada gambar wajahku di sana...
wajahku...di hari pertama menduduki kubikku yang mungil....

dan sekarang aku harus terbiasa dengan nama itu..."bintang bungsu"....

Terima kasih bisa menerimaku dengan sambutan begitu menggelikan sekaligus mengharukan di saat yang bersamaan...
Segala Puji bagi-Mu Duhai Sang Penguasa Alam...Yang telah sudi mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa...


.......ini tempat yang luar biasa.......

lamunan dari kubik ku yang manis....tentang...sepasang elang

percakapan dengan sepasang elang yang sunggh luar biasa...

setap katanya lugas nan tegas...
setiap pertanyaannya merupak sebuah eksplorasi jiwa yang mengesankan...
setiap uraiannya menunjukkan kualitas jiwa dan tajamnya pemikiran yang mengagumkan...

sepasang elang yang luar biasa....

"cintai pekerjaanmu....maka ia akan mencintaimu...."

(berpikir agak lama)....hi....aneh...

"melakukan pekerjaan berarti juga kita telah menyimpan ruh kita di dalamnya...ruh itu adalah cinta...ruh itulah yang kemudian bertransformasi menjadi tanggung jawab, kepekaan , dan profesionalisme..."

belum berhenti sampai situ aja...

"kesalahan sebagian manusia dewasa ini adalah menempatkan cinta hanya pada dimensi melankolis yang berbau hati yang sebenarnya semu...maka ketahuilah...saat kita ihadapkan pada cinta sesungguhnya seribu ruang telah terbuka...dan kita punya kesempatan untuk memilih dimana cinta itu akan diletakkan..."

elang betina yang dari tadi diam...tiba tiba angkat bicara....

"bukan salah hanya saja mereka kurang pertimbangan dalam "meletakkan cinta "...dimanapun cinta berada sejatinya cinta itu akan bertransformasi dalam bentuk yang diinginkan dan diharapkan oleh pemiliknya...suggesti maksudnya...yang terpenting dari kata cinta ...ya adalah penempatan dan waktu yang tepat...."

mereka saling berpandang...mata mereka tajam menelaah pemikiran masing-masing...

"lantas menurut kamu???"

tersedak sebelum akhirnya berani mengungkapkan...

"saya setuju dengan konsep ruang mas tadi...tapi kalo dikaitkan dengan suggesti yang mbak baru katakan...saya jadi berpikir...berarti kita bisa membuat konsep ruangan itu sendiri kan???kita bebas menentukan jumlah ruang,bentuk,warna,dekoras
i,juga prioritas pemakaiannya...."

mereka malah balik menatap ku aneh ...

"emm....begini saya pikir jika ruang-ruang itu bisa kita dekorasi sendiri...maka cinta akan menempati tempat yang pas...pas dengan hati, keinginan, dan porsinya. lagipula kita gak harus membuat 1 cinta itu hanya terpaku diam di 1 ruang yang menjemukan kan??? dia bisa berbagi...menempati ruang-ruang nyaman yang telah kita dekor dengan apik...nah karen sudah di bagi...maka dapat dipastikan cinta kita bisa bertransformasi lebih dari 1 jenis sekat...tapi jangan lupa...tetap harus pada tempat dan waktu yan tepat..."

aku jadi mikir sendiri ma kata-kataku sendiri...

"baik setiap orang berhak punya pemikiran...dan menarik juga jika kami bisa bekerjasama dengan anda..."

sepasang elang tadi memandangku dengan tatapan yang sebenarnya membuatku agak ngeri...
sepasang suami-istri tangguh yang berjuang dengan kata, kertas, pena, untuk memberi kontribusi lebih dalam pembangunan bangsa ini...
berharap bisa menyebarkan berita dan informasi lewat kata-kata yang benar luar biasa dan sangat mengggugah...

bahagia bisa bekerja sama dengan mereka...
dan kini aku tengah asyik melihat mereka berpikir keras memutuskan headline edisi minggu ini....

aku senang melihat mereka...
berpikir tai santai...
berdebat tapi saling senyum...
sepasang elang yang....
bekerja dengan cinta...

emm...luar biasa!!!

Mereka Biasa Dipanggil "Penulis Gila"

Sebut mereka “Penulis gila”…..
Luar biasa, aku lagi-lagi diberi kesempatan untuk mengenal dua sosok luar biasa yang membuatku berdecak kagum. Mereka yang disebut “Penulis gila” adalah sepasang muda-mudi dengan penampilan yang agak berantakan, pola pikir acak, namun punya kemampuan menulis yang luar biasa. Gila bukan karena kurang waras, tapi gila karena berani menggunakan kata-kata yang tak biasa, liar, dan sangat tajam.

Mereka adalah wartawan SosBud yang paling diandalkan. Beberapa kali ditawari pindah ke bagian ekonomi atau politik, tapi keduanya menggeleng serentak. Bagi mereka SosBud adalah media ternyaman mengeksplorasi diri untuk membangun kepekaan orang lain(pembaca)untuk sudi menengok atau cukuplah melirik kondisi sosial negeri ini. Merekalah sosok yang menjadi ujung tombak divisi SosBud.

Mereka sering menghilang dalam waktu yang cukup lama, meninggalkan jejak-jejak tawa yang selalu menempel di dinding kubik “Para Penjelajah”. Saat mereka datang, wajah sumringah, gelak tawa yang membahana di seisi kantor, menjadi oleh-oleh terindah dan termahal yang mereka suguhkan dari perjalanan luar biasa mereka. Kadang mereka berceloteh sana-sini, singgah dari satu kubik ke kubik lain, bercerita perjalanan panjang mereka, atau sekadar mendeskripsikan moment-moment yang mereka abadikan pada kameranya. Aku tau mereka lelah, peluh dan bibir kering mereka sudah bisa menjelaskan semuanya. Tapi lagi-lagi, semangat berbagi mereka tak terkalahkan oleh rasa lelah atau dahaga.

Dua orang “Penulis gila” ini, sering membuatku terbelalak saat ku buka artikel kiriman mereka. Tercengang…terpaku…bahkan kadang terharu…Luar biasa… Setiap katanya mengandung makna “nakal” yang berhasil mengulik sanubari untuk berkata, “Agghh…kepekaanku sangat payah!!!” atau mungkin batin kita berceloteh, “kok dia tau aja ya…”. Ada sensasi tersendiri saat harus membaca dan menelaah isinya. Bulu kudukku bahkan kadang merinding….

Mereka menguak kehidupan social yang nyaris tak terjamah alam pikir kita. Yang biasa terlupakan, tapi justru menjadi judul pilihan mereka. Penulis fakta yang cemerlang, bersih, dan tanpa basa-basi. Penulisan opini yang cerdas mengolah kata, tak mempengaruhi, tak menggurui, tapi mengilhami. Walau pola pikir mereka sangat acak, tapi penuturannya sangat sistematis dan apik.

Seorang pemilik cafĂ© di kemang yang tidak hanya cerdas dalam marketing bebek panggangnya, tapi juga lihai dalam merenda kata. Sedangkan yang satu, seorang tutor di sebuah bimbingan belajar yang amat mahir membuat orang mengerti apa yang ia maksud, apa yang tidak kita mengerti. Mereka yang sering memandang jalanan, trotoar, bus kota, dan lampu merah pada tepat jam 8 malam, hanya untuk mendengar benda-benda itu bercerita tentang harinya. Awalnya mereka diam, lalu saling pandang, dan akhirnya saling melempar senyum. Dan itulah pertanda bahwa mereka menemukan sesuatu, dan itu artinya kami tak kan melihat mereka dalam waktu yang cukup lama. Berkelana dalam arti sesungguhnya…menyibak tirai fakta di balik gedung-gedung tinggi nan menjulang. Itulah mereka “Penulis Gila” yang luar biasa.

Lintang Samudera dan Embun Barat itu nama “penjelajah” mereka. Setahuku, nama itu mereka putuskan sebagai nama “penjelajah” setelah melewati proses voting di semua divisi. Bahkan Pimred kami pun tak ketinggalan ditodong memilih. Dari beberapa nama yang mereka ajukan, ternyata Lintang Samudera dan Embun barat adalah nama pilihan “para penjelajah”. Entah kenapa nama itu dipilih. Maknanya pun hingga detik ini tak bisa kupahami.

Kini aku duduk di ruang inspirasi yang bentuknya seperti akuarium, karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Aku sedang satu garis lurus dengan dua “penulis gila” itu. Melihat wajah mereka yang benar-benar menandakan kecerdasan intelektual yang tinggi, kematangan berpikir, dan kekayaan jiwa yang meluap. Sesekali imajinasiku melompat terlalu jauh, mungkinkah mereka berjodoh? Pertanyaan gila memang, tapi apa yang salah dari pertanyaanku?

Terima kasih membuat emailku penuh dengan artikel kalian. Terima kasih membuat laptopku makin berharga karena pernah mereview dan mengedit artikel brilian kalian. Dan terima kasih banyak telah menjadi pelopor sekaligus dua orang pertama yang memanggilku “Bintang Bungsu”.

--------------------------
---------------***----------------------------------

Untuk “Penulis Gila” dengan ruang fikir yang tak pernah mati….
Linggar Jati Permana dan Haura Sekar Bianka
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here