Tampilkan postingan dengan label cerita sisipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sisipan. Tampilkan semua postingan

Jejakmu...

Jejak kecil yang kau tinggalkan
Melemparkanku pada keajaiban penuh makna
Dan dengan segala cinta yang ku punya
Kubiarkan angan kita mengembara.


jejakmu masih tertinggal di sini...
jelas sekali...
sesekali ku lihat lekat...
sesekali ku acuhkan buang muka...

aku berusaha berlari menjauh...
tapi entah kenapa...
derap langkahku...
kembali membawaku menatap jejakmu...

sudah ku biarkan angan ini mengembara...
melewati tataran khatulistiwa...
menembus langit berjuta gemerlap...
tapi jejaknya tetap di sini...

Melewati 2 Senja Lalu...

Melewati 2 senja lalu...

Baru saja ku kenal...
dalam nuansa abu-abu yang begitu pekat...
tanpa rasa untuk tahu...
tanpa tahu untuk apa...

Melewati 2 senja lalu...

Bertanya pada hati...
tentang segenap duga yang menyelimuti...
lalu dia memastikan hati...
bahwa dia ada disini...

Melewati 2 senja lalu...

Aku yang berdiri memandangi langit...
merasakan angin yang berhembus...
menikmati aroma tanah basah...
dalam hujan bersamanya...

Melewati 2 senja lalu...

Percaya atau tidak...
ini nyata tanpa reka...
tapi hati ini mulai bergerak...
ke arah rasa tak terduga...

Melewati 2 senja lalu...

Pernah ada ragu...
bahkan prasangka...
tapi matanya...
menguras habis ragu dan sangka...

Melewati 2 senja lalu...

Dengan 2 sensasi rasa...

Dengan 2 akhir...

Yang berbeda...

Kesakitan Sang "Angsa Bengawan"

Pagi ini dapat postingan email dari seorang sahabat dekat di majalah. Isinya lumayan panjang, menceritakan kisahnya dengan calon nya. Awalnya saya menikmati membaca tiap katanya dengan penuh senyum, sampai pada akhirnya saya menemukan kalimat seperti ini...

"Tidak semuanya indah seperti rencana, hingga komitmen itu hancur karena sebuah pilihan yang menyakitkan, saya menganggapnya sebagai ketidak adilan atas cinta saya yang sudah saya peram agar manis diakhirnya bersamanya"

Tiba-tiba saja saya bisa merasakan kesakitan yang tertuang dalam surat elektronik itu. Saya membayangkan "angsa bengawan" yang biasanya periang itu, kini tengah menangis di atas bantalnya. Merasakan kesakitan akibat patahnya cinta yang nyaris membunuhnya seketika.

"Masa lalu itu memang tidak bisa dibeli, bila indah maka keindahannya tidak akan bisa terbeli bahkan oleh masa sekarang sekalipun. Bila menyakitkan maka kesakitannya akan terus terasa."

Bait diatas seketika membawa saya pada bayang-bayang masa lalu. Ya, masa lalu memang begitu adanya, selalu saja tak ingin ditinggalkan, menguntit ke sana kemari, mencoba terlihat untuk diingat dan dikenang.

"Dia yang saya percaya untuk menjaga hati saya, nyatanya mengalah pada masa lalu dan akhirnya membuang masa sekarangnya dengan segala pengakuan yang membuat saya tak bisa bernafas."

Ya Latief...apa ini? Kenapa Engkau mengarahkan pikirku pada kejadian akhir-akhir ini? Saya berusaha berpikir positif untuk tidak cepat mengambil kesimpulan atas apa yang saya ketahui masih sangat dangkal.

"Sulit melupakan cinta pertama yang terlalu memberi arti pada hati yang telah lama gersang. Saya menyadari benar hal itu, dan saya sangat mengerti. Tapi saya merasa ini tidak adil untuk saya. Karena saya harus terluka karena cinta masa lalunya."

Hatiku lantah seketika, akhirnya zihar sudah inti permasalahannya. Tapi sya tidak berani melanjutkan membaca email itu sampai ke ending nya. Saya mencoba menguatkan hati saya sendiri.

"De, apa saya salah bila saya merasa ini tidak adil untuk saya? Bukankah saya pantas marah dan kecewa atas semua perlakuannya? Saya tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali keperihan yang teramat menyakitkan ini. Dari awal saya berkomitmen, tiduk untuk main-main layaknya remaja saat ini. Saya serius untuk melanjutkan semua ke arah yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Dia memilih kembali pada masa lalunya. Meninggalkan saya di persimpangan jalan yang sepi ini...sendirian."

Seperti memakan buah maja, pahit sekali saya membacanya...getir sekali apa yang tiba-tiba menyelinap ke kalbu saya. "Angsa bengawan" yang biasanya tegas dalam mengurai fakta soal kebusukan politik, kini harus tersungkur lemah pada kepahitan cinta.

Beberapa kali saya melihat mbakku sang "angsa bengawan" diantar jemput pangerannya itu. Mereka tampak begitu serasi. Mbak ku yang manis dengan perawakan ramping dan memepesona, dan pangerannya yang terlihat tegap dan penuh wibawa. Mereka sangat ideal untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih. Kami di kantor redaksi sudah memastikan mereka akan naik pelaminan awal tahun ini. Dan aku pernah mendengar pangeran itu mengiyakan.

Tapi rencana tak selalu berjalan mulus. Toh pada kenyataannya, saat ini semua sudah terbukti, bahwa dia lebih memilih cinta masa lalunya ketimbang gadis cantik dan baik hati seperti mbakku yang sudah hampir 3 tahun menyirami ketandusan hatinya yang pernah gagal dalam bercinta. Hati kecilku pun berkata, ini memang tidak adil untuk mbakku.

Tapi cobalah tengok kata-kata terakhirnya yang membuat saya makin mengaguminya...

"Jiwa ini memang kadang merana karena ditinggal cinta, tapi cinta sebetulnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya beranjak menemukan peraduan ternyamannya. Lalu memanggil kita kembali untuk merasakan mesranya. Saya hanya berpikir bahwa Allah mungkin mengatakan ini bukan yang terbaik untuk saya. Saya hanya kuat dengan keyakinan ini, bahwa entah diujung dunia mana dan garis waktu kapan, Allah sudah menyiapkan seorang pria terbaik untuk saya, pria yang saya harapkan manjadi kekasih saya dikehidupan setelah kematian, pria yang dengan tegas mampu memilih hidupnya untuk sebisa mungkin tak menyakiti hati siapa pun, pria yang siap menggenggam tangan saya menuju taman Firdaus-Nya. Saya sepenuhnya meyakini hal itu."

Kesakitan yang saya rasakan di dua malam ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang menyayat yang dirasakan sang "angsa bengawan". Untukmu salah satu penulis terbaik di kawanan "Para Penjelajah", saya tidak akan pernah lelah menyebut namamu dalam setiap doa-doa saya. Semoga Allah membahagiakanmu mbak.

ya...aku malu...

Bila aku mau...
maka aku akan membisu...
dalam bisu itu...
ada harap yang semoga saja tak semu...

Aku merebahkan diri pada bantalan nasib...
menoleh ke sisi kiri pada rimbunan ruput kering tajam yang masuk ke sela-sela jari...
lalu melempar pandang pada jajaran tulip warna-warni yang bergoyang seirama di sisi kananku...

Laluaku menatap surya...
mengutarakan tanya lewat pandang...
tanpa nyata suara...
berbisik sendu padanya lewat nurani...
mempertanyakan semua yang ku pandang...

kemudian aku berceloteh kecil tentang diriku...
membuka sisi mendung yang terpendam...
lalu aku membuka ruang memoriku...
melihat keindahan dan aroma segar perjalanan hidupku...

Tiba-tiba aku merasa..
terjebak kabut pekat abu-abu...
aku menunduk malu...
pada jejakku yang kaku...

ya...aku malu...
dan aku beruntung masih bisa merasa malu...

Jangan tanya "kenapa" padaku...

aku ingin melepas penat dihamparan padang rumput hijau...
merebahkan badan diantara rumput-ruput yang bergoyang seiring angin...

melepas penat...sambil menangis...
sendiri...
kenapa sendiri???
karena aku ingin menangisi kesedihanku sendiri...
tanpa ada kata "kenapa"

namun pilu rasanya saat rimbunnya rumput itu sama sekali tak menjawab getar hatiku...
tak merespon teriakku...
hanya bergoyang tanpa hirau padaku...

karena itu...
aku ingin menangis...
dihadapan kalian...karib sejatiku...
bukan ingin menyusahkan atau membuat kalian resah melihatku...
tapi aku butuh anggukan kepala...
usapan di kepala, kata-kata manis menyejukan...

aku ingin menangis dihadapan kalian...
dalam rengkuh tangan kalian...
menggenggam erat jemari kalian...

satu yang ku pinta...
jangan tanya "kenapa" padaku...
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here