Beberapa hari yang lalu saya berbincang akrab dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai reporter. Perbincangan kami memang agak aneh namun sangat menyenangkan. Malam itu kami berdiri di depan jendela lantai tiga tempat kami menghabiskan segenap kelihaian jari kami menata kata.
Dia bilang,"Langit indah betul,De".
"Ya, indah banget mbak...kayaknya bakal betah berlama-lama di sini" Jawab ku seadanya.
Saya tau dia sedang memikirkan hal yang pastinya tak biasa orang lain pikirkan.
"Kamu beruntung dapat nama Bintang Bungsu, De", katanya memecah senyap.
"Iya mabak...rasanya terlalu luar biasa Hny dipanggil seperti itu" Lagi-lagi saya hanya menjawab seadanya.
Setelah kalimat ku barusan, saya hanya memperhatikan dia yang sibuk melenggangkan pandang ke arah langit. Terkadang tersenyum, seperti menghitung, sesekali menunduk tegang. Tapi entah kenapa, saya sangat menikmati menonton raut mukanya yang berganti-ganti itu.
"Kau tau kenapa kami begitu mudah menamakanmu Bintang Bungsu?" Tanyanya dalam hening.
Saya pun menggeleng perlahan, seraya menunjukkan ekspresi wajah penuh keingintahuan.
"Kami lihat itu dimata mu,De. Kamu tau apa yang pertama Poenix kita ceritakan tentang interview mu pada kami? Dia tidak membahas tulisanmu, dia juga tak menceritakan jalannya diskusi kalian, tapi dia menceritakan mata mu, dan yang ada di baliknya".
Saya sejenak mengingat-ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu saat saya pertama kali bertemu dan berbicara pada sepasang Poenix luar biasa yang saya temui.
"Dia melihat banyak bintang di mata mu..."
Jujur saja, saat itu saya benar-benar merasa sangat Gede Rasa alias GR. Sebenarnya saya merasa bahwa memang kelebihan dan anugerah yang Allah berikan pada saya salah satunya adalah mata saya. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa ada orang lain yang menangkap hal-hal tak biasa dari mata saya, bahkan yang sama sekali tidak saya ketahui.
"De, terangkan pada saya kenapa kamu suka bintang?" Dia mengagetkan ku.
"Hemm...Hny suka bintang karena cahayanya mampu memecah kegelapan malam. Bintang itu benar-benar penghias langit malam yang mampu menambah kesyahduan malam. Bintang yang kadang harus mengalah pada mendung, tapi tak pernah lelah bersinar. Bintang yang berpijar nyata bernama matahari, yang menjadikan siang begitu benderang. Satu hal lagi, bintang yang Hny kagumi karena keelokan bentuknya yang berperan sebagai penunjuk arah."
Dia menatapku lekat, lalu membalikkan pandang pada langit yang kali itu benar-benar terlihat sangat indah.
Lalu dia berkata lagi, "Kalimat terakhir itu, De. Harapan kami saat nama itu kami berikan untukmu. Indah tak sekedar rupawan, menyala tak sekedar terang, tapi bersinar dengan sejuta manfaat yang nyata. Penunjuk arah...saya suka itu"
Entah kenapa, saya justru terpaku dan membisu saat dia melontarkan kata-kata itu. Ringan sekali dia berujar, tapi sangat dalam untuk dijabar. Ahh...penulis gila ini membuatku tertegun. Saya kembali melihat wajahnya yang tirus, matanya yang cekung dan tajam, hidungnya yang mancung, dan dagunya yang runcing. Saya perhatikan terus, dia memang cantik dan terlihat sangat cerdas. Saya jadi malu pada panggilan saya sendiri. Saya seketika merasa tidak pantas mendapat penggilan itu.
Dan lagi-lagi dia mengagetkan saya,"Kamu pantas dipanggil itu, De".
Ahh...biarkan saya menyembunyikan sesuatu dalam pikiran saya. Saya yang merasa sudah ditebak jalan pikirnya, cuma bisa tersenyum. Malam yang benar-benar indah bersama seorang wanita cerdas sepertinya.
Setelah itu pun, dia menarik tangan saya, mengajak saya pulang. Sambil berkata,"Bintang Bungsu jangan redup ya!!! Sekarang kita pulang, istirahat untuk menjaga pijar nyala ruh kita"
Ahh...senangnya disayang dan dicintai seperti ini...
Saya sayang Mbak Bian...
Saya sayang kalian Para Penjelajah...
Dia bilang,"Langit indah betul,De".
"Ya, indah banget mbak...kayaknya bakal betah berlama-lama di sini" Jawab ku seadanya.
Saya tau dia sedang memikirkan hal yang pastinya tak biasa orang lain pikirkan.
"Kamu beruntung dapat nama Bintang Bungsu, De", katanya memecah senyap.
"Iya mabak...rasanya terlalu luar biasa Hny dipanggil seperti itu" Lagi-lagi saya hanya menjawab seadanya.
Setelah kalimat ku barusan, saya hanya memperhatikan dia yang sibuk melenggangkan pandang ke arah langit. Terkadang tersenyum, seperti menghitung, sesekali menunduk tegang. Tapi entah kenapa, saya sangat menikmati menonton raut mukanya yang berganti-ganti itu.
"Kau tau kenapa kami begitu mudah menamakanmu Bintang Bungsu?" Tanyanya dalam hening.
Saya pun menggeleng perlahan, seraya menunjukkan ekspresi wajah penuh keingintahuan.
"Kami lihat itu dimata mu,De. Kamu tau apa yang pertama Poenix kita ceritakan tentang interview mu pada kami? Dia tidak membahas tulisanmu, dia juga tak menceritakan jalannya diskusi kalian, tapi dia menceritakan mata mu, dan yang ada di baliknya".
Saya sejenak mengingat-ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu saat saya pertama kali bertemu dan berbicara pada sepasang Poenix luar biasa yang saya temui.
"Dia melihat banyak bintang di mata mu..."
Jujur saja, saat itu saya benar-benar merasa sangat Gede Rasa alias GR. Sebenarnya saya merasa bahwa memang kelebihan dan anugerah yang Allah berikan pada saya salah satunya adalah mata saya. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa ada orang lain yang menangkap hal-hal tak biasa dari mata saya, bahkan yang sama sekali tidak saya ketahui.
"De, terangkan pada saya kenapa kamu suka bintang?" Dia mengagetkan ku.
"Hemm...Hny suka bintang karena cahayanya mampu memecah kegelapan malam. Bintang itu benar-benar penghias langit malam yang mampu menambah kesyahduan malam. Bintang yang kadang harus mengalah pada mendung, tapi tak pernah lelah bersinar. Bintang yang berpijar nyata bernama matahari, yang menjadikan siang begitu benderang. Satu hal lagi, bintang yang Hny kagumi karena keelokan bentuknya yang berperan sebagai penunjuk arah."
Dia menatapku lekat, lalu membalikkan pandang pada langit yang kali itu benar-benar terlihat sangat indah.
Lalu dia berkata lagi, "Kalimat terakhir itu, De. Harapan kami saat nama itu kami berikan untukmu. Indah tak sekedar rupawan, menyala tak sekedar terang, tapi bersinar dengan sejuta manfaat yang nyata. Penunjuk arah...saya suka itu"
Entah kenapa, saya justru terpaku dan membisu saat dia melontarkan kata-kata itu. Ringan sekali dia berujar, tapi sangat dalam untuk dijabar. Ahh...penulis gila ini membuatku tertegun. Saya kembali melihat wajahnya yang tirus, matanya yang cekung dan tajam, hidungnya yang mancung, dan dagunya yang runcing. Saya perhatikan terus, dia memang cantik dan terlihat sangat cerdas. Saya jadi malu pada panggilan saya sendiri. Saya seketika merasa tidak pantas mendapat penggilan itu.
Dan lagi-lagi dia mengagetkan saya,"Kamu pantas dipanggil itu, De".
Ahh...biarkan saya menyembunyikan sesuatu dalam pikiran saya. Saya yang merasa sudah ditebak jalan pikirnya, cuma bisa tersenyum. Malam yang benar-benar indah bersama seorang wanita cerdas sepertinya.
Setelah itu pun, dia menarik tangan saya, mengajak saya pulang. Sambil berkata,"Bintang Bungsu jangan redup ya!!! Sekarang kita pulang, istirahat untuk menjaga pijar nyala ruh kita"
Ahh...senangnya disayang dan dicintai seperti ini...
Saya sayang Mbak Bian...
Saya sayang kalian Para Penjelajah...


0 komentar:
Posting Komentar