Mereka Biasa Dipanggil "Penulis Gila"

Sebut mereka “Penulis gila”…..
Luar biasa, aku lagi-lagi diberi kesempatan untuk mengenal dua sosok luar biasa yang membuatku berdecak kagum. Mereka yang disebut “Penulis gila” adalah sepasang muda-mudi dengan penampilan yang agak berantakan, pola pikir acak, namun punya kemampuan menulis yang luar biasa. Gila bukan karena kurang waras, tapi gila karena berani menggunakan kata-kata yang tak biasa, liar, dan sangat tajam.

Mereka adalah wartawan SosBud yang paling diandalkan. Beberapa kali ditawari pindah ke bagian ekonomi atau politik, tapi keduanya menggeleng serentak. Bagi mereka SosBud adalah media ternyaman mengeksplorasi diri untuk membangun kepekaan orang lain(pembaca)untuk sudi menengok atau cukuplah melirik kondisi sosial negeri ini. Merekalah sosok yang menjadi ujung tombak divisi SosBud.

Mereka sering menghilang dalam waktu yang cukup lama, meninggalkan jejak-jejak tawa yang selalu menempel di dinding kubik “Para Penjelajah”. Saat mereka datang, wajah sumringah, gelak tawa yang membahana di seisi kantor, menjadi oleh-oleh terindah dan termahal yang mereka suguhkan dari perjalanan luar biasa mereka. Kadang mereka berceloteh sana-sini, singgah dari satu kubik ke kubik lain, bercerita perjalanan panjang mereka, atau sekadar mendeskripsikan moment-moment yang mereka abadikan pada kameranya. Aku tau mereka lelah, peluh dan bibir kering mereka sudah bisa menjelaskan semuanya. Tapi lagi-lagi, semangat berbagi mereka tak terkalahkan oleh rasa lelah atau dahaga.

Dua orang “Penulis gila” ini, sering membuatku terbelalak saat ku buka artikel kiriman mereka. Tercengang…terpaku…bahkan kadang terharu…Luar biasa… Setiap katanya mengandung makna “nakal” yang berhasil mengulik sanubari untuk berkata, “Agghh…kepekaanku sangat payah!!!” atau mungkin batin kita berceloteh, “kok dia tau aja ya…”. Ada sensasi tersendiri saat harus membaca dan menelaah isinya. Bulu kudukku bahkan kadang merinding….

Mereka menguak kehidupan social yang nyaris tak terjamah alam pikir kita. Yang biasa terlupakan, tapi justru menjadi judul pilihan mereka. Penulis fakta yang cemerlang, bersih, dan tanpa basa-basi. Penulisan opini yang cerdas mengolah kata, tak mempengaruhi, tak menggurui, tapi mengilhami. Walau pola pikir mereka sangat acak, tapi penuturannya sangat sistematis dan apik.

Seorang pemilik café di kemang yang tidak hanya cerdas dalam marketing bebek panggangnya, tapi juga lihai dalam merenda kata. Sedangkan yang satu, seorang tutor di sebuah bimbingan belajar yang amat mahir membuat orang mengerti apa yang ia maksud, apa yang tidak kita mengerti. Mereka yang sering memandang jalanan, trotoar, bus kota, dan lampu merah pada tepat jam 8 malam, hanya untuk mendengar benda-benda itu bercerita tentang harinya. Awalnya mereka diam, lalu saling pandang, dan akhirnya saling melempar senyum. Dan itulah pertanda bahwa mereka menemukan sesuatu, dan itu artinya kami tak kan melihat mereka dalam waktu yang cukup lama. Berkelana dalam arti sesungguhnya…menyibak tirai fakta di balik gedung-gedung tinggi nan menjulang. Itulah mereka “Penulis Gila” yang luar biasa.

Lintang Samudera dan Embun Barat itu nama “penjelajah” mereka. Setahuku, nama itu mereka putuskan sebagai nama “penjelajah” setelah melewati proses voting di semua divisi. Bahkan Pimred kami pun tak ketinggalan ditodong memilih. Dari beberapa nama yang mereka ajukan, ternyata Lintang Samudera dan Embun barat adalah nama pilihan “para penjelajah”. Entah kenapa nama itu dipilih. Maknanya pun hingga detik ini tak bisa kupahami.

Kini aku duduk di ruang inspirasi yang bentuknya seperti akuarium, karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Aku sedang satu garis lurus dengan dua “penulis gila” itu. Melihat wajah mereka yang benar-benar menandakan kecerdasan intelektual yang tinggi, kematangan berpikir, dan kekayaan jiwa yang meluap. Sesekali imajinasiku melompat terlalu jauh, mungkinkah mereka berjodoh? Pertanyaan gila memang, tapi apa yang salah dari pertanyaanku?

Terima kasih membuat emailku penuh dengan artikel kalian. Terima kasih membuat laptopku makin berharga karena pernah mereview dan mengedit artikel brilian kalian. Dan terima kasih banyak telah menjadi pelopor sekaligus dua orang pertama yang memanggilku “Bintang Bungsu”.

--------------------------
---------------***----------------------------------

Untuk “Penulis Gila” dengan ruang fikir yang tak pernah mati….
Linggar Jati Permana dan Haura Sekar Bianka

0 komentar:

Posting Komentar

advertise here
advertise here
advertise here
advertise here