Kesakitan Sang "Angsa Bengawan"

Pagi ini dapat postingan email dari seorang sahabat dekat di majalah. Isinya lumayan panjang, menceritakan kisahnya dengan calon nya. Awalnya saya menikmati membaca tiap katanya dengan penuh senyum, sampai pada akhirnya saya menemukan kalimat seperti ini...

"Tidak semuanya indah seperti rencana, hingga komitmen itu hancur karena sebuah pilihan yang menyakitkan, saya menganggapnya sebagai ketidak adilan atas cinta saya yang sudah saya peram agar manis diakhirnya bersamanya"

Tiba-tiba saja saya bisa merasakan kesakitan yang tertuang dalam surat elektronik itu. Saya membayangkan "angsa bengawan" yang biasanya periang itu, kini tengah menangis di atas bantalnya. Merasakan kesakitan akibat patahnya cinta yang nyaris membunuhnya seketika.

"Masa lalu itu memang tidak bisa dibeli, bila indah maka keindahannya tidak akan bisa terbeli bahkan oleh masa sekarang sekalipun. Bila menyakitkan maka kesakitannya akan terus terasa."

Bait diatas seketika membawa saya pada bayang-bayang masa lalu. Ya, masa lalu memang begitu adanya, selalu saja tak ingin ditinggalkan, menguntit ke sana kemari, mencoba terlihat untuk diingat dan dikenang.

"Dia yang saya percaya untuk menjaga hati saya, nyatanya mengalah pada masa lalu dan akhirnya membuang masa sekarangnya dengan segala pengakuan yang membuat saya tak bisa bernafas."

Ya Latief...apa ini? Kenapa Engkau mengarahkan pikirku pada kejadian akhir-akhir ini? Saya berusaha berpikir positif untuk tidak cepat mengambil kesimpulan atas apa yang saya ketahui masih sangat dangkal.

"Sulit melupakan cinta pertama yang terlalu memberi arti pada hati yang telah lama gersang. Saya menyadari benar hal itu, dan saya sangat mengerti. Tapi saya merasa ini tidak adil untuk saya. Karena saya harus terluka karena cinta masa lalunya."

Hatiku lantah seketika, akhirnya zihar sudah inti permasalahannya. Tapi sya tidak berani melanjutkan membaca email itu sampai ke ending nya. Saya mencoba menguatkan hati saya sendiri.

"De, apa saya salah bila saya merasa ini tidak adil untuk saya? Bukankah saya pantas marah dan kecewa atas semua perlakuannya? Saya tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali keperihan yang teramat menyakitkan ini. Dari awal saya berkomitmen, tiduk untuk main-main layaknya remaja saat ini. Saya serius untuk melanjutkan semua ke arah yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Dia memilih kembali pada masa lalunya. Meninggalkan saya di persimpangan jalan yang sepi ini...sendirian."

Seperti memakan buah maja, pahit sekali saya membacanya...getir sekali apa yang tiba-tiba menyelinap ke kalbu saya. "Angsa bengawan" yang biasanya tegas dalam mengurai fakta soal kebusukan politik, kini harus tersungkur lemah pada kepahitan cinta.

Beberapa kali saya melihat mbakku sang "angsa bengawan" diantar jemput pangerannya itu. Mereka tampak begitu serasi. Mbak ku yang manis dengan perawakan ramping dan memepesona, dan pangerannya yang terlihat tegap dan penuh wibawa. Mereka sangat ideal untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih. Kami di kantor redaksi sudah memastikan mereka akan naik pelaminan awal tahun ini. Dan aku pernah mendengar pangeran itu mengiyakan.

Tapi rencana tak selalu berjalan mulus. Toh pada kenyataannya, saat ini semua sudah terbukti, bahwa dia lebih memilih cinta masa lalunya ketimbang gadis cantik dan baik hati seperti mbakku yang sudah hampir 3 tahun menyirami ketandusan hatinya yang pernah gagal dalam bercinta. Hati kecilku pun berkata, ini memang tidak adil untuk mbakku.

Tapi cobalah tengok kata-kata terakhirnya yang membuat saya makin mengaguminya...

"Jiwa ini memang kadang merana karena ditinggal cinta, tapi cinta sebetulnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya beranjak menemukan peraduan ternyamannya. Lalu memanggil kita kembali untuk merasakan mesranya. Saya hanya berpikir bahwa Allah mungkin mengatakan ini bukan yang terbaik untuk saya. Saya hanya kuat dengan keyakinan ini, bahwa entah diujung dunia mana dan garis waktu kapan, Allah sudah menyiapkan seorang pria terbaik untuk saya, pria yang saya harapkan manjadi kekasih saya dikehidupan setelah kematian, pria yang dengan tegas mampu memilih hidupnya untuk sebisa mungkin tak menyakiti hati siapa pun, pria yang siap menggenggam tangan saya menuju taman Firdaus-Nya. Saya sepenuhnya meyakini hal itu."

Kesakitan yang saya rasakan di dua malam ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang menyayat yang dirasakan sang "angsa bengawan". Untukmu salah satu penulis terbaik di kawanan "Para Penjelajah", saya tidak akan pernah lelah menyebut namamu dalam setiap doa-doa saya. Semoga Allah membahagiakanmu mbak.

3 Hati...2 Dunia...1 Cinta...

Indah saat bersama
Tepiskan semua rasa
Cinta ini tak pernah mengerti

Cinta hempaskan sayapmu
Bawa aku terbang jauh
Lewati dua dunia

Cinta pegang semua rasa
Lengkapkanlah mimpi hati
Jalani satu cinta kita

Senyum hangat manjamu
Luluhkan dingin hatiku
Cinta ini tiga hati

Mungkin kita tak akan bisa
Selamanya bersama
Kita harus mengerti
Cinta..

Tiga hati dua dunia satu cinta
Tiga hati dua dunia satu cinta

.......Ghaury; OST. 3 Hati 2 Dunia 1 cinta.........


*Original soundtracknya oceh dah...
film nya juga recomended banget buat ditonton...
banyak nilai-nilai sosial yang menyadarkan kita betapa berharganya arti orang tua, betapa dalamnya makna cinta, sejauh mana cinta dapat berperang melawan keyakinan, dan bagaimana hati mampu merelakan cinta pergi demi kebaikan bersama...
dan bagaimana membuat kita tak pernah kalah dalam cinta.....

Setelah sekian lama...Bintang Bungsu kembali juga...

Sudah lama tidak main ke kubik nyamanku...
masih tetap biru...
masih tetap sederhana...
lukisan wajahku tetap terpajang manis di sudut nya...
bangkunya pun masih nyaman untuk diduduki...
tidak ada yang berubah...

Aku berjalan mengitari ruang penuh inspirasi itu...
dan pandangku langsung tertuju pada whiteboard di ujung ruang tengah...
aku melihatnya seksama...
tertawa kecil membaca celotehan-celotehan jenaka di dalamnya...
dan ku sadari...
nama Bintang Bungsu sudah absent terlalu lama dalam meramaikan papan itu...

Biasanya aku rajin menulis setiap kali datang...
walau hanya kata SEMANGAT dengan 3 tanda seru...
atau sekedar kalimat, "Lihat inspirasi berterbangan di mana-mana"...
aku senang...

Sudah lama memang tidak membaur dengan Para Penjelajahku yang luar biasa...
minum teh bersama...
duduk di pinggir jalan, memandangi langit, bintang, dan gemerlap lampu Rasuna...
atau makan kacang di balkon lantai 3 sambil membahas berita terhangat di negeri ini...
sudah lama memang...

Setelah kubik mungilku...
ruang selanjutnya yang ku sambangi adalah ruang Phoenix ku yang sangat ku rindukan...
betapa senangnya aku, saat aku bisa menatap sepasang wajah menyejukan itu...
ku peluk sang phoenix betina...dan si jantan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya...

setelah puas bercengkrama singkat namun berkualitas itu...
aku menuju tengah ruangan...
berdiri diatas meja kecil yang biasa kami sebut mimbar...
ya tentunya karena meja itu sering kali dinaiki oleh yang lain saat ada woro-woro penting...
sekarang aku yang naik dan sedikit berteriak...
"apa kabar para penjelajahku?"

sontak saja mereka kaget, bahkan ada yang kopinya sampai tumpah saking kagetnya...
tapi semua tak adayang marah...
ingat sekali...
saat mbak Bian justru balik berteriak, "Bungsuku datang lagi..."
atau mas Langit, yang melemparku dengan pesawat-pesawatan sambil bicara, "dah lama gelap ni, kemane aje bintang bungsu?"
Beda lagi mas seno yang daritadi serius memandang laptopnya, " Setelah sekian lama, Bintang Bungsu kembali juga..."
mereka menghampiriku sekejap...
mengerubungiku seperti layaknya perompak yang hendak melumat mangsanya...

kecupan manis dari mbak-mbakku tercinta...
pipiku sampai basah...
hehehe...
sedangkan mas-mas gantengku cuma bisa nyolek-nyolek aku dengan pena nya...
sambil tertawa geli...

wah...senangnya bisa datang lagi...
setelah itu, sepasang phoniex mengajak kami semua untuk duduk di pinggir jalan...
ternyata mereka berdua sudah memesan roti bakar, martabak manis, dan cakwe goreng untuk dinikmati bersama...
Tak lupa meminta OB untuk membuatkan kami teh tubruk mantap...

Di bawah langit Rasuna...
Para Penjelajah menikmati malam dalam tatapan berbeda...
memaknai malam pada sisi berbeda...
imajinasi mereka luas terbentang...
aku percaya itu...

mereka menikmati malam...
sedangkan aku...
sambil menikmati malam...
aku juga tengah menikmati pemandangan magis lainnya...
menatapi wajah-wajah penuh semangat, inspirasi, dan ide-ide brilian...
wajah-wajah keluarga ku yang tengah menikmati Keagungan Sang Latief dengan caranya masing-masing...

Puji syukur bagi-Mu Ya Allah...
yang telah menyampaikan ku ke malam indah ini...
yang telah memberi kesempatan aku menghirup hawa cita dan cinta yang kuat ini...

Jagalah ukhuwah kami selalu ya Allah...

Tunjuk Satu Bintang...

Coba kau tunjuk satu bintang
S'bagai pedoman langkah kita
Ya...begitulah mengapa saya ingin jadi bintang...ya karena hakikat bintang yang satu itu yang menyadarkan saya bahwa hakikat hidup haruslah seperti ini pula. Menjadi manusia yang bisa menjadi membawa perubahan untuk kemashlahatan ummat, menjadi manusia yang bisa mengubah wajah kotor dunia menjadi wajah ceria diselimuti syari'ah. Lewat media apapun, sekalipun hanya lewat pena. Dan mungkin Allah telah membawa saya pada arus untuk memeriahkan bumi lewat pena. Berjuang melesatkan mimpi saya agar kiranya kalian mampu men-jabat erat hasil karyaku…Hingga terbias warna syahdu...


Akan ku ukir satu kisah tentang kita
Semuanya saya awali menulis tentang saya, dan sahabat-sahabat saya. Inspirasi pertama dalam dunia kepenulisan saya...kalian...sobat sejati saya. Maka betapa inginnya saya menumpahkan segalanya tentang kalian dalam induk cerita bertajuk "Tentang Kita", dimana baik dan buruk terangkum oleh indah.

Lalu selanjutnya Akan ku cerna semua karya cipta kita
, mencernanya dalam memori, hati, dan pikiran saya tentang semua hal yang membuat saya mampu terus membiarkan jari-jari saya mengurai makna dalam "Tentang Kita". Lalu akan tiba saat dimana saya harus mengeluarkan segala bentuk kemampuan saya mengeksplorasi hati saya untuk mampu merangkai cetakan yang didalamnya terurai semua dimana hitam dan putih terbalut oleh hangatnya cinta.

Dan bila semua terwujudkan...
Maka saya akan sangat bangga karena mampu menempatkan kalian sebagai sumber inspirasi sekaligus penyemangat saya untuk tetap bertahan berdiam lama di depan laptop, membuat saya kuat untuk terus merangkai tiap kata demi mengejar deadline. Saya benar-benar merasa beruntung Allah menggariskan jalan hidup saya bertemu dengan sosok-sosok penuh warna seperti kalian. Kalian luar biasa. Atas semua yang sudah saya capai, terima kasih banyak dan ini semua untuk kalian...

Teruntuk semua nama yang berhasil menyentuh hatiku, menyuntikan semangat ke darahku, mengalirkan ceria ke raut wajahku...

Di sisimu s'lalu hariku

Tunjuk Satu Bintang
Sheila on 7

ya...aku malu...

Bila aku mau...
maka aku akan membisu...
dalam bisu itu...
ada harap yang semoga saja tak semu...

Aku merebahkan diri pada bantalan nasib...
menoleh ke sisi kiri pada rimbunan ruput kering tajam yang masuk ke sela-sela jari...
lalu melempar pandang pada jajaran tulip warna-warni yang bergoyang seirama di sisi kananku...

Laluaku menatap surya...
mengutarakan tanya lewat pandang...
tanpa nyata suara...
berbisik sendu padanya lewat nurani...
mempertanyakan semua yang ku pandang...

kemudian aku berceloteh kecil tentang diriku...
membuka sisi mendung yang terpendam...
lalu aku membuka ruang memoriku...
melihat keindahan dan aroma segar perjalanan hidupku...

Tiba-tiba aku merasa..
terjebak kabut pekat abu-abu...
aku menunduk malu...
pada jejakku yang kaku...

ya...aku malu...
dan aku beruntung masih bisa merasa malu...

Beautiful Girl

Beautiful girl, wherever you are
I knew when I saw you, you had opened the door
I knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again.

You said "hello" and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again.

It was destiny's game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whenever you are, I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I've loved again after a long, long while
I've loved again.

Beautiful girl, I'll search on for you
'Til all of your loveliness in my arms come true
You've made me love again after a long, long while
In love again
And I'm glad that it's you
Hmm, beautiful girl.




*Berharap lagu ini dinyanyikan oleh seseorang untukku...
seseorang yang namanya telah tertulis di Lau Mahfudz sebagai jodohku...

Mata...Bintang...Arah...

Beberapa hari yang lalu saya berbincang akrab dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai reporter. Perbincangan kami memang agak aneh namun sangat menyenangkan. Malam itu kami berdiri di depan jendela lantai tiga tempat kami menghabiskan segenap kelihaian jari kami menata kata.

Dia bilang,"Langit indah betul,De".
"Ya, indah banget mbak...kayaknya bakal betah berlama-lama di sini" Jawab ku seadanya.

Saya tau dia sedang memikirkan hal yang pastinya tak biasa orang lain pikirkan.

"Kamu beruntung dapat nama Bintang Bungsu, De", katanya memecah senyap.
"Iya mabak...rasanya terlalu luar biasa Hny dipanggil seperti itu" Lagi-lagi saya hanya menjawab seadanya.

Setelah kalimat ku barusan, saya hanya memperhatikan dia yang sibuk melenggangkan pandang ke arah langit. Terkadang tersenyum, seperti menghitung, sesekali menunduk tegang. Tapi entah kenapa, saya sangat menikmati menonton raut mukanya yang berganti-ganti itu.

"Kau tau kenapa kami begitu mudah menamakanmu Bintang Bungsu?" Tanyanya dalam hening.
Saya pun menggeleng perlahan, seraya menunjukkan ekspresi wajah penuh keingintahuan.

"Kami lihat itu dimata mu,De. Kamu tau apa yang pertama Poenix kita ceritakan tentang interview mu pada kami? Dia tidak membahas tulisanmu, dia juga tak menceritakan jalannya diskusi kalian, tapi dia menceritakan mata mu, dan yang ada di baliknya".

Saya sejenak mengingat-ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu saat saya pertama kali bertemu dan berbicara pada sepasang Poenix luar biasa yang saya temui.

"Dia melihat banyak bintang di mata mu..."

Jujur saja, saat itu saya benar-benar merasa sangat Gede Rasa alias GR. Sebenarnya saya merasa bahwa memang kelebihan dan anugerah yang Allah berikan pada saya salah satunya adalah mata saya. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa ada orang lain yang menangkap hal-hal tak biasa dari mata saya, bahkan yang sama sekali tidak saya ketahui.

"De, terangkan pada saya kenapa kamu suka bintang?" Dia mengagetkan ku.
"Hemm...Hny suka bintang karena cahayanya mampu memecah kegelapan malam. Bintang itu benar-benar penghias langit malam yang mampu menambah kesyahduan malam. Bintang yang kadang harus mengalah pada mendung, tapi tak pernah lelah bersinar. Bintang yang berpijar nyata bernama matahari, yang menjadikan siang begitu benderang. Satu hal lagi, bintang yang Hny kagumi karena keelokan bentuknya yang berperan sebagai penunjuk arah."

Dia menatapku lekat, lalu membalikkan pandang pada langit yang kali itu benar-benar terlihat sangat indah.

Lalu dia berkata lagi, "Kalimat terakhir itu, De. Harapan kami saat nama itu kami berikan untukmu. Indah tak sekedar rupawan, menyala tak sekedar terang, tapi bersinar dengan sejuta manfaat yang nyata. Penunjuk arah...saya suka itu"

Entah kenapa, saya justru terpaku dan membisu saat dia melontarkan kata-kata itu. Ringan sekali dia berujar, tapi sangat dalam untuk dijabar. Ahh...penulis gila ini membuatku tertegun. Saya kembali melihat wajahnya yang tirus, matanya yang cekung dan tajam, hidungnya yang mancung, dan dagunya yang runcing. Saya perhatikan terus, dia memang cantik dan terlihat sangat cerdas. Saya jadi malu pada panggilan saya sendiri. Saya seketika merasa tidak pantas mendapat penggilan itu.

Dan lagi-lagi dia mengagetkan saya,"Kamu pantas dipanggil itu, De".
Ahh...biarkan saya menyembunyikan sesuatu dalam pikiran saya. Saya yang merasa sudah ditebak jalan pikirnya, cuma bisa tersenyum. Malam yang benar-benar indah bersama seorang wanita cerdas sepertinya.

Setelah itu pun, dia menarik tangan saya, mengajak saya pulang. Sambil berkata,"Bintang Bungsu jangan redup ya!!! Sekarang kita pulang, istirahat untuk menjaga pijar nyala ruh kita"

Ahh...senangnya disayang dan dicintai seperti ini...
Saya sayang Mbak Bian...
Saya sayang kalian Para Penjelajah...
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here