sekali cinta...tetap cinta...

Masih menikmati begini...
dikelilingi oleh para pejuang pena...

Walau setiap malam harus berjuang membiarkan mata tetap terbuka...
tapi entah kenapa...rasanya luar biasa...

Cuma anak bungsu yang masih dikasih banyak kesempatan...
buat belajar dengan tekun..

Belajar mengetahui...sulitnya berjuang mencari berita...
susahnya mengemas berita jadi layak dipercaya...
setengah matinya memutar otak...menyampaikan informasi secara sehat...

ahhh...aku mencintai pekerjaan ini...
walau hanya lepas dan nyambi...

Sekali cinta...aku tetap cinta...

Menunggu

Bila menunggu satu purnama saja sudah terasa begitu sulit...
Bagaimana menunggu puluhan purnama...???

Ya lagi-lagi...ego harus dikubur dalam-dalam...
agar kekuatannya tak mengunci akal sehat dan kesabaran kita dalam ruang sempitnya...

Tapi...sisi hati yang lain berteriak-teriak...
Aku cuma manusia biasa...berdalih dengan seribu raut tak bersalah...

Ya...menunggu itu memang melelahkan...
Tapi ingatlah...
Hal yang indah itu datang tidak secara cuma-cuma..
melewati masa panjang dan penantian tersendiri...

Sama seperti saat Ali dengan ikhlas menunggu keberaniannya datang untk bisa melamar Fatimah...
Atau seperti Nabi Yusuf as yang dengan segala keikhlasan menjalani masa-masa penantian kebebasannya dari penjara...
Atau kah, mencontoh kesabaran Siti Sarah menanti buah hati yang lama diidamkan...
Dan, mencontek peristiwa kesabaran Siti hajar dan Nabi Ismail as yang menanti Nabi Ibrahim di tengah gurun pasir tak berpenghuni...

ya..ya...
Menunggu itu...
INDAH..

Melewati 2 Senja Lalu...

Melewati 2 senja lalu...

Baru saja ku kenal...
dalam nuansa abu-abu yang begitu pekat...
tanpa rasa untuk tahu...
tanpa tahu untuk apa...

Melewati 2 senja lalu...

Bertanya pada hati...
tentang segenap duga yang menyelimuti...
lalu dia memastikan hati...
bahwa dia ada disini...

Melewati 2 senja lalu...

Aku yang berdiri memandangi langit...
merasakan angin yang berhembus...
menikmati aroma tanah basah...
dalam hujan bersamanya...

Melewati 2 senja lalu...

Percaya atau tidak...
ini nyata tanpa reka...
tapi hati ini mulai bergerak...
ke arah rasa tak terduga...

Melewati 2 senja lalu...

Pernah ada ragu...
bahkan prasangka...
tapi matanya...
menguras habis ragu dan sangka...

Melewati 2 senja lalu...

Dengan 2 sensasi rasa...

Dengan 2 akhir...

Yang berbeda...

Tentang Rasa...

Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
‘tuk sejenak lelap di bahumu

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya


Lirik lagu astrid ini, entah kenapa jadi terasa aneh saya dengar.
Bukan karena lagunya tidak enak...tapi karena terjadi sesuatu di hati saya saat saya mendengarnya...

huft...

Sudahlah...

Thanks Astrid buat lagunya yang bagus...

Kesakitan Sang "Angsa Bengawan"

Pagi ini dapat postingan email dari seorang sahabat dekat di majalah. Isinya lumayan panjang, menceritakan kisahnya dengan calon nya. Awalnya saya menikmati membaca tiap katanya dengan penuh senyum, sampai pada akhirnya saya menemukan kalimat seperti ini...

"Tidak semuanya indah seperti rencana, hingga komitmen itu hancur karena sebuah pilihan yang menyakitkan, saya menganggapnya sebagai ketidak adilan atas cinta saya yang sudah saya peram agar manis diakhirnya bersamanya"

Tiba-tiba saja saya bisa merasakan kesakitan yang tertuang dalam surat elektronik itu. Saya membayangkan "angsa bengawan" yang biasanya periang itu, kini tengah menangis di atas bantalnya. Merasakan kesakitan akibat patahnya cinta yang nyaris membunuhnya seketika.

"Masa lalu itu memang tidak bisa dibeli, bila indah maka keindahannya tidak akan bisa terbeli bahkan oleh masa sekarang sekalipun. Bila menyakitkan maka kesakitannya akan terus terasa."

Bait diatas seketika membawa saya pada bayang-bayang masa lalu. Ya, masa lalu memang begitu adanya, selalu saja tak ingin ditinggalkan, menguntit ke sana kemari, mencoba terlihat untuk diingat dan dikenang.

"Dia yang saya percaya untuk menjaga hati saya, nyatanya mengalah pada masa lalu dan akhirnya membuang masa sekarangnya dengan segala pengakuan yang membuat saya tak bisa bernafas."

Ya Latief...apa ini? Kenapa Engkau mengarahkan pikirku pada kejadian akhir-akhir ini? Saya berusaha berpikir positif untuk tidak cepat mengambil kesimpulan atas apa yang saya ketahui masih sangat dangkal.

"Sulit melupakan cinta pertama yang terlalu memberi arti pada hati yang telah lama gersang. Saya menyadari benar hal itu, dan saya sangat mengerti. Tapi saya merasa ini tidak adil untuk saya. Karena saya harus terluka karena cinta masa lalunya."

Hatiku lantah seketika, akhirnya zihar sudah inti permasalahannya. Tapi sya tidak berani melanjutkan membaca email itu sampai ke ending nya. Saya mencoba menguatkan hati saya sendiri.

"De, apa saya salah bila saya merasa ini tidak adil untuk saya? Bukankah saya pantas marah dan kecewa atas semua perlakuannya? Saya tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali keperihan yang teramat menyakitkan ini. Dari awal saya berkomitmen, tiduk untuk main-main layaknya remaja saat ini. Saya serius untuk melanjutkan semua ke arah yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Dia memilih kembali pada masa lalunya. Meninggalkan saya di persimpangan jalan yang sepi ini...sendirian."

Seperti memakan buah maja, pahit sekali saya membacanya...getir sekali apa yang tiba-tiba menyelinap ke kalbu saya. "Angsa bengawan" yang biasanya tegas dalam mengurai fakta soal kebusukan politik, kini harus tersungkur lemah pada kepahitan cinta.

Beberapa kali saya melihat mbakku sang "angsa bengawan" diantar jemput pangerannya itu. Mereka tampak begitu serasi. Mbak ku yang manis dengan perawakan ramping dan memepesona, dan pangerannya yang terlihat tegap dan penuh wibawa. Mereka sangat ideal untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih. Kami di kantor redaksi sudah memastikan mereka akan naik pelaminan awal tahun ini. Dan aku pernah mendengar pangeran itu mengiyakan.

Tapi rencana tak selalu berjalan mulus. Toh pada kenyataannya, saat ini semua sudah terbukti, bahwa dia lebih memilih cinta masa lalunya ketimbang gadis cantik dan baik hati seperti mbakku yang sudah hampir 3 tahun menyirami ketandusan hatinya yang pernah gagal dalam bercinta. Hati kecilku pun berkata, ini memang tidak adil untuk mbakku.

Tapi cobalah tengok kata-kata terakhirnya yang membuat saya makin mengaguminya...

"Jiwa ini memang kadang merana karena ditinggal cinta, tapi cinta sebetulnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya beranjak menemukan peraduan ternyamannya. Lalu memanggil kita kembali untuk merasakan mesranya. Saya hanya berpikir bahwa Allah mungkin mengatakan ini bukan yang terbaik untuk saya. Saya hanya kuat dengan keyakinan ini, bahwa entah diujung dunia mana dan garis waktu kapan, Allah sudah menyiapkan seorang pria terbaik untuk saya, pria yang saya harapkan manjadi kekasih saya dikehidupan setelah kematian, pria yang dengan tegas mampu memilih hidupnya untuk sebisa mungkin tak menyakiti hati siapa pun, pria yang siap menggenggam tangan saya menuju taman Firdaus-Nya. Saya sepenuhnya meyakini hal itu."

Kesakitan yang saya rasakan di dua malam ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang menyayat yang dirasakan sang "angsa bengawan". Untukmu salah satu penulis terbaik di kawanan "Para Penjelajah", saya tidak akan pernah lelah menyebut namamu dalam setiap doa-doa saya. Semoga Allah membahagiakanmu mbak.

3 Hati...2 Dunia...1 Cinta...

Indah saat bersama
Tepiskan semua rasa
Cinta ini tak pernah mengerti

Cinta hempaskan sayapmu
Bawa aku terbang jauh
Lewati dua dunia

Cinta pegang semua rasa
Lengkapkanlah mimpi hati
Jalani satu cinta kita

Senyum hangat manjamu
Luluhkan dingin hatiku
Cinta ini tiga hati

Mungkin kita tak akan bisa
Selamanya bersama
Kita harus mengerti
Cinta..

Tiga hati dua dunia satu cinta
Tiga hati dua dunia satu cinta

.......Ghaury; OST. 3 Hati 2 Dunia 1 cinta.........


*Original soundtracknya oceh dah...
film nya juga recomended banget buat ditonton...
banyak nilai-nilai sosial yang menyadarkan kita betapa berharganya arti orang tua, betapa dalamnya makna cinta, sejauh mana cinta dapat berperang melawan keyakinan, dan bagaimana hati mampu merelakan cinta pergi demi kebaikan bersama...
dan bagaimana membuat kita tak pernah kalah dalam cinta.....

Setelah sekian lama...Bintang Bungsu kembali juga...

Sudah lama tidak main ke kubik nyamanku...
masih tetap biru...
masih tetap sederhana...
lukisan wajahku tetap terpajang manis di sudut nya...
bangkunya pun masih nyaman untuk diduduki...
tidak ada yang berubah...

Aku berjalan mengitari ruang penuh inspirasi itu...
dan pandangku langsung tertuju pada whiteboard di ujung ruang tengah...
aku melihatnya seksama...
tertawa kecil membaca celotehan-celotehan jenaka di dalamnya...
dan ku sadari...
nama Bintang Bungsu sudah absent terlalu lama dalam meramaikan papan itu...

Biasanya aku rajin menulis setiap kali datang...
walau hanya kata SEMANGAT dengan 3 tanda seru...
atau sekedar kalimat, "Lihat inspirasi berterbangan di mana-mana"...
aku senang...

Sudah lama memang tidak membaur dengan Para Penjelajahku yang luar biasa...
minum teh bersama...
duduk di pinggir jalan, memandangi langit, bintang, dan gemerlap lampu Rasuna...
atau makan kacang di balkon lantai 3 sambil membahas berita terhangat di negeri ini...
sudah lama memang...

Setelah kubik mungilku...
ruang selanjutnya yang ku sambangi adalah ruang Phoenix ku yang sangat ku rindukan...
betapa senangnya aku, saat aku bisa menatap sepasang wajah menyejukan itu...
ku peluk sang phoenix betina...dan si jantan pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya...

setelah puas bercengkrama singkat namun berkualitas itu...
aku menuju tengah ruangan...
berdiri diatas meja kecil yang biasa kami sebut mimbar...
ya tentunya karena meja itu sering kali dinaiki oleh yang lain saat ada woro-woro penting...
sekarang aku yang naik dan sedikit berteriak...
"apa kabar para penjelajahku?"

sontak saja mereka kaget, bahkan ada yang kopinya sampai tumpah saking kagetnya...
tapi semua tak adayang marah...
ingat sekali...
saat mbak Bian justru balik berteriak, "Bungsuku datang lagi..."
atau mas Langit, yang melemparku dengan pesawat-pesawatan sambil bicara, "dah lama gelap ni, kemane aje bintang bungsu?"
Beda lagi mas seno yang daritadi serius memandang laptopnya, " Setelah sekian lama, Bintang Bungsu kembali juga..."
mereka menghampiriku sekejap...
mengerubungiku seperti layaknya perompak yang hendak melumat mangsanya...

kecupan manis dari mbak-mbakku tercinta...
pipiku sampai basah...
hehehe...
sedangkan mas-mas gantengku cuma bisa nyolek-nyolek aku dengan pena nya...
sambil tertawa geli...

wah...senangnya bisa datang lagi...
setelah itu, sepasang phoniex mengajak kami semua untuk duduk di pinggir jalan...
ternyata mereka berdua sudah memesan roti bakar, martabak manis, dan cakwe goreng untuk dinikmati bersama...
Tak lupa meminta OB untuk membuatkan kami teh tubruk mantap...

Di bawah langit Rasuna...
Para Penjelajah menikmati malam dalam tatapan berbeda...
memaknai malam pada sisi berbeda...
imajinasi mereka luas terbentang...
aku percaya itu...

mereka menikmati malam...
sedangkan aku...
sambil menikmati malam...
aku juga tengah menikmati pemandangan magis lainnya...
menatapi wajah-wajah penuh semangat, inspirasi, dan ide-ide brilian...
wajah-wajah keluarga ku yang tengah menikmati Keagungan Sang Latief dengan caranya masing-masing...

Puji syukur bagi-Mu Ya Allah...
yang telah menyampaikan ku ke malam indah ini...
yang telah memberi kesempatan aku menghirup hawa cita dan cinta yang kuat ini...

Jagalah ukhuwah kami selalu ya Allah...
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here