Kepingan Kisah D4

Kelas itu....tak terlalu besar, agak gelap, urutan ke2 dari belakang, berhadapan dengan UKS yang kemudian jadi ruang Mading...

dari situlah.....semua berawal....Kelas 2 D....SMP 91 Jakarta

.......................***....................................................

Tahun tengah, awal kisah kami dimulai...
Berasal dari kelas yang berebda saat kelas 1, tak membuat kami menjadi sungkan atau tak bisa menyesuaikan diri...
bersaing dalam nilai akademik, juga sama sekali tidak membuat kami ada dalam wilayah persaingan busuk kelas teri...
Kami yang bertemu dalam suasana yang cukup aneh...merasa dekat dalam pembicaraan yang aneh...

................................................F4.............................................

Perkenalkan....
Si rame Henny Pratiwi...
Si energik Vinna Marwa...
Si lugu Yossy Eko Arimbi...
Si ceria Dwi Indah Setiawahyuni...
Si kalem Maya Widyasrini...

Dipersatukan karena F4...
masih ingatkan tentang boyband asal.....(asal mana c mereka?)yang terkenal dengan serial "Meteor Garden".
Sebenernya c waktu itu yang ngefans berat ma mereka cuma Vinna (Jerry Yan), Imbi (Ken Zu), dan Dwi Indah (Vic Zou), sedangkan aku dan Maya hanya penggembira yang lama-kelamaan terpengaruh mereka bertiga. terpengaruh untuk memihak salah satu dari idola mereka....
Aku akhirnya memihak Imbi untuk sedikit memberi kesempatan Ken Zu untuk membnagun opiniku tentang dia yang menurut Imbi ganteng itu. Sedangkan Maya....aggghhh jujur saja sampai saat ini aku gak tau dia akhirnya memihak siapa....

Secara tidak langsung F4 telah berperan besar dalam terbentuknya Genk luar biasa di kelas 2D itu....Genk pertamaku....(hahaha...sebenarnya aku terpingkal0pingkal menyebut D4 sebagai sebuah Genk).

D4....kalau ada yang berpikir kami menamakan D4 karena ingin mirip F4...emmm terkaan itu agak kurang tepat...itu hanya kebetulan saja...
D4....lebih tepatnya karena kami kelas 2D....D itu huruf ke empat...jadi deh D4....
dan terima kasih untuk Vinna yang mencetuskan nama itu untuk pertama kalinya...
hingga akhirnya D4 menjadi identitas kami sampai masa kelulusan SMP...

kami melewati banyak hal...gak cuma yang manis-manis tapi juga yang sedih bahkan pahit...
dari mulai masalah di sekolah, keluarga, hingga masalah si merah jambu....
lucu kalau mengingatnya.....
Jujur saja....mereka adalah orang-orang yang mengajarkanku arti sahabat sesungguhnya...
dan mereka adalah sahabat-sahabat pertamaku....

Persaingan di kelas 2 kami hadapi bersama, bahu membahu dalam belajar. Bergiliran ke rumah personil D4 untuk belajar kelompok, nonton film India, joget2 bareng, atau sekadar ketawa-ketawi gak jelas...
Kami selalu ingin bersama dalam setiap kelompok kerja...ikut ekskul yang sama "Mading"...dan ikut camping sama-sama.....

Indah banget mengenang masa-masa luar biasa itu...

Persahabatan itu terus berlanjut sampai ke kelas 3...
bersama menghadapi tantangan senagai Anak Baru Gede...yang harus pintar menemukan jati diri...
persahabatan kami gak lurus-lurus aja...
malah di kelas 3 kami banyak menemui hal-hal yang nyaris merusak persahabatan indah kami...
dalam banyak hal...khususnya soal si merah jambu....
hahaha...kekanak-kanakan sekali kami saat itu....
tapi ya itulah persahabatan kami....
namun di tahun ke-3 pula lah kami menemukan anggota baru.....
Triana Lestari...sang pendatang baru...
sempet Dwi Indah bilang,"sekarang namanya D4 plus"...
hahaha...entah apakah itu sebuah pengesahan atau celotehan belaka...
tapi yang pasti...kami kehadiran belahan jiwa yang lain...
saudara baru....yang akhirnya melengkapi khazanah sifat dan prilaku D4 plus....

Hari-hari di SMP waktu itu sangat menyenangkan...
hingga kami harus terpisah karena kata "kelulusan"....
Ahhh...sedih sekali rasanya membayangkan harus pisah dari wajah-wajah penuh tawa itu...
tak bisa membayangkan akan jarang melihat senyum dan tawa mereka yang meledak itu....

Entah mengapa aku merasa menjadi yang paling sedih....

Ya...karena aku harus menjalani bagian dari takdirku....sekolah Di Sekolah Menengan Analis Kimia Bogor...yang kata orang jauh, sibuk, gak ada waktu main...
sedangkan mereka sekolah di SMA di jakarta yang berdekatan, bahkan 1 sekolah...
Imbi, Vinna di SMA 39...
Maya di SMA 8...
Nana dan Dwi Indah di SMA 99...

Terbukti sudah....ternyata benar...akulah yang sering absent saat mereka kumpul-kumpul...
aku yang nyaris tak pernah setor muka saat mereka bercengkrama bersama....
Agghhh....aku sedih....

.....................................................*****...................................................

Allah selalu punya rencana yang Maha Dahsyat untuk hamba-hambanya...
sekarang kami tumbuh menjadi gadis-gadis remaja dengan umur rata-rata 21 tahun di tahun 2010 ini...
kami tengah meniti jalan hidup kami...
berjuang meraih mimpi-mimpi kami....
Aku menjalani rutinitasku sebagai seorang Analis Kimia sekaligus mahasiswi jurusan kimia di STMIPA Bogor dna nyambi jadi penulis lepas....
Vinna sibuk menjalani keluar biasaan karunia-Nya di STAN...
Imbi asyik mengarungi mimpinya menjadi dokter gigi di UNPAD...
Dwi indah menikmati ngitung-ngitung di Trisakti jurusan accounting....
Nana sedang meniti ilmu managment di Bakrie University...
Maya asyik meraih cita sebagai arsitek di UI....

Aku beruntung punya sahabat-sahabat yang sangat luar biasa seperti kalian...
Do'aku untuk kesuksesan kalian selalu terucap di akhir sholatku...
Aku rindu kenangan 8 tahun yang lalu....ingin rasanya terulang kembali...

Sahabat....D4 Plus....akan menjadi kepingan romansa terindah yang terbingkai apik di hati kita...
setiap saat dapat dilihat dan dibuka....
Sahabat pertama yang aku miliki....

Sungguh.....
Aku mencintai kalian karena Allah.....

Para Penjelajah

Mereka menamakan dirinya "Para Penjelajah"
Lekat dengan pena, kertas, laptop, perekam suara, dan yang terpenting...NYALI...

Saat datang, ramainya bukan main...
berteriak menyapa ke seluruh ruangan...
mengetuk tiap kubik dengan senyuman...

mereka yang ku kenal baru 2 minggu...
telah berhasil menghipnotisku untuk benar-benar mencintai....berita....

"para penjelajah" yang selalu terlihat santai walau dalam tekanan...
terlihat biasa saat diburu deadline...

mereka yang punya nama unik untuk menyebut dirinya...
terkadang nama itu dicetusnya sendiri...kadang hasil aklamasi rekan-rekannya...
tapi apapun itu...mereka sangat bangga dengan nama itu...

Luar biasa...kini aku menjadi bagian dari "para Penjelajah" ulung itu..
Mereka sering meneriakiku dengan sebutan..."pendatang bungsu"...
Menghujaniku dengan senyum yang tak henti-henti...
Mengguyur habis diriku dengan guyonan khas "para penjelajah"

Tapi kemarin...ada yang sedikit berbeda...
ku datangi kubik mungilku...
dan kulihat sebuah kotak yang di atasnya terdapat sepucuk surat...inilah isinya...

"Selamat datang duhai pendatang baru...
Selamat berjuang hai pendatang bungsu...
semoga cita, asa, mimpimu terwujud dengan pasti...
semoga ruangan ini mampu menjadi ruang ekspresi terbaik imaji dan pemikiranmu...
buka setiap pintu jiwa dan pikiran...
jangan takut berkata bila itu benar...jangan takut mengungkapkan bila itu nyata...
karena apa yang kita cari saat ini...hanya punya satu landasan pokok...kejujuran...

Selamat datang di ruang canda penuh khasanah...
bersama kami Para Penjelajah...
dan kini kau adalah bagian dari kami...
siapkan dirimu...

untukmu...
"Bintang Bungsu...."

jadi ingin mengeluarkan air mata...
dan saat ku buka kotaknya...
hahaha...terkesima...tak habis pikir...
sebuah figura cantik warna biru berhias kupu-kupu emas di sudutnya...
dan ada gambar wajahku di sana...
wajahku...di hari pertama menduduki kubikku yang mungil....

dan sekarang aku harus terbiasa dengan nama itu..."bintang bungsu"....

Terima kasih bisa menerimaku dengan sambutan begitu menggelikan sekaligus mengharukan di saat yang bersamaan...
Segala Puji bagi-Mu Duhai Sang Penguasa Alam...Yang telah sudi mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa...


.......ini tempat yang luar biasa.......

lamunan dari kubik ku yang manis....tentang...sepasang elang

percakapan dengan sepasang elang yang sunggh luar biasa...

setap katanya lugas nan tegas...
setiap pertanyaannya merupak sebuah eksplorasi jiwa yang mengesankan...
setiap uraiannya menunjukkan kualitas jiwa dan tajamnya pemikiran yang mengagumkan...

sepasang elang yang luar biasa....

"cintai pekerjaanmu....maka ia akan mencintaimu...."

(berpikir agak lama)....hi....aneh...

"melakukan pekerjaan berarti juga kita telah menyimpan ruh kita di dalamnya...ruh itu adalah cinta...ruh itulah yang kemudian bertransformasi menjadi tanggung jawab, kepekaan , dan profesionalisme..."

belum berhenti sampai situ aja...

"kesalahan sebagian manusia dewasa ini adalah menempatkan cinta hanya pada dimensi melankolis yang berbau hati yang sebenarnya semu...maka ketahuilah...saat kita ihadapkan pada cinta sesungguhnya seribu ruang telah terbuka...dan kita punya kesempatan untuk memilih dimana cinta itu akan diletakkan..."

elang betina yang dari tadi diam...tiba tiba angkat bicara....

"bukan salah hanya saja mereka kurang pertimbangan dalam "meletakkan cinta "...dimanapun cinta berada sejatinya cinta itu akan bertransformasi dalam bentuk yang diinginkan dan diharapkan oleh pemiliknya...suggesti maksudnya...yang terpenting dari kata cinta ...ya adalah penempatan dan waktu yang tepat...."

mereka saling berpandang...mata mereka tajam menelaah pemikiran masing-masing...

"lantas menurut kamu???"

tersedak sebelum akhirnya berani mengungkapkan...

"saya setuju dengan konsep ruang mas tadi...tapi kalo dikaitkan dengan suggesti yang mbak baru katakan...saya jadi berpikir...berarti kita bisa membuat konsep ruangan itu sendiri kan???kita bebas menentukan jumlah ruang,bentuk,warna,dekoras
i,juga prioritas pemakaiannya...."

mereka malah balik menatap ku aneh ...

"emm....begini saya pikir jika ruang-ruang itu bisa kita dekorasi sendiri...maka cinta akan menempati tempat yang pas...pas dengan hati, keinginan, dan porsinya. lagipula kita gak harus membuat 1 cinta itu hanya terpaku diam di 1 ruang yang menjemukan kan??? dia bisa berbagi...menempati ruang-ruang nyaman yang telah kita dekor dengan apik...nah karen sudah di bagi...maka dapat dipastikan cinta kita bisa bertransformasi lebih dari 1 jenis sekat...tapi jangan lupa...tetap harus pada tempat dan waktu yan tepat..."

aku jadi mikir sendiri ma kata-kataku sendiri...

"baik setiap orang berhak punya pemikiran...dan menarik juga jika kami bisa bekerjasama dengan anda..."

sepasang elang tadi memandangku dengan tatapan yang sebenarnya membuatku agak ngeri...
sepasang suami-istri tangguh yang berjuang dengan kata, kertas, pena, untuk memberi kontribusi lebih dalam pembangunan bangsa ini...
berharap bisa menyebarkan berita dan informasi lewat kata-kata yang benar luar biasa dan sangat mengggugah...

bahagia bisa bekerja sama dengan mereka...
dan kini aku tengah asyik melihat mereka berpikir keras memutuskan headline edisi minggu ini....

aku senang melihat mereka...
berpikir tai santai...
berdebat tapi saling senyum...
sepasang elang yang....
bekerja dengan cinta...

emm...luar biasa!!!

Mereka Biasa Dipanggil "Penulis Gila"

Sebut mereka “Penulis gila”…..
Luar biasa, aku lagi-lagi diberi kesempatan untuk mengenal dua sosok luar biasa yang membuatku berdecak kagum. Mereka yang disebut “Penulis gila” adalah sepasang muda-mudi dengan penampilan yang agak berantakan, pola pikir acak, namun punya kemampuan menulis yang luar biasa. Gila bukan karena kurang waras, tapi gila karena berani menggunakan kata-kata yang tak biasa, liar, dan sangat tajam.

Mereka adalah wartawan SosBud yang paling diandalkan. Beberapa kali ditawari pindah ke bagian ekonomi atau politik, tapi keduanya menggeleng serentak. Bagi mereka SosBud adalah media ternyaman mengeksplorasi diri untuk membangun kepekaan orang lain(pembaca)untuk sudi menengok atau cukuplah melirik kondisi sosial negeri ini. Merekalah sosok yang menjadi ujung tombak divisi SosBud.

Mereka sering menghilang dalam waktu yang cukup lama, meninggalkan jejak-jejak tawa yang selalu menempel di dinding kubik “Para Penjelajah”. Saat mereka datang, wajah sumringah, gelak tawa yang membahana di seisi kantor, menjadi oleh-oleh terindah dan termahal yang mereka suguhkan dari perjalanan luar biasa mereka. Kadang mereka berceloteh sana-sini, singgah dari satu kubik ke kubik lain, bercerita perjalanan panjang mereka, atau sekadar mendeskripsikan moment-moment yang mereka abadikan pada kameranya. Aku tau mereka lelah, peluh dan bibir kering mereka sudah bisa menjelaskan semuanya. Tapi lagi-lagi, semangat berbagi mereka tak terkalahkan oleh rasa lelah atau dahaga.

Dua orang “Penulis gila” ini, sering membuatku terbelalak saat ku buka artikel kiriman mereka. Tercengang…terpaku…bahkan kadang terharu…Luar biasa… Setiap katanya mengandung makna “nakal” yang berhasil mengulik sanubari untuk berkata, “Agghh…kepekaanku sangat payah!!!” atau mungkin batin kita berceloteh, “kok dia tau aja ya…”. Ada sensasi tersendiri saat harus membaca dan menelaah isinya. Bulu kudukku bahkan kadang merinding….

Mereka menguak kehidupan social yang nyaris tak terjamah alam pikir kita. Yang biasa terlupakan, tapi justru menjadi judul pilihan mereka. Penulis fakta yang cemerlang, bersih, dan tanpa basa-basi. Penulisan opini yang cerdas mengolah kata, tak mempengaruhi, tak menggurui, tapi mengilhami. Walau pola pikir mereka sangat acak, tapi penuturannya sangat sistematis dan apik.

Seorang pemilik cafĂ© di kemang yang tidak hanya cerdas dalam marketing bebek panggangnya, tapi juga lihai dalam merenda kata. Sedangkan yang satu, seorang tutor di sebuah bimbingan belajar yang amat mahir membuat orang mengerti apa yang ia maksud, apa yang tidak kita mengerti. Mereka yang sering memandang jalanan, trotoar, bus kota, dan lampu merah pada tepat jam 8 malam, hanya untuk mendengar benda-benda itu bercerita tentang harinya. Awalnya mereka diam, lalu saling pandang, dan akhirnya saling melempar senyum. Dan itulah pertanda bahwa mereka menemukan sesuatu, dan itu artinya kami tak kan melihat mereka dalam waktu yang cukup lama. Berkelana dalam arti sesungguhnya…menyibak tirai fakta di balik gedung-gedung tinggi nan menjulang. Itulah mereka “Penulis Gila” yang luar biasa.

Lintang Samudera dan Embun Barat itu nama “penjelajah” mereka. Setahuku, nama itu mereka putuskan sebagai nama “penjelajah” setelah melewati proses voting di semua divisi. Bahkan Pimred kami pun tak ketinggalan ditodong memilih. Dari beberapa nama yang mereka ajukan, ternyata Lintang Samudera dan Embun barat adalah nama pilihan “para penjelajah”. Entah kenapa nama itu dipilih. Maknanya pun hingga detik ini tak bisa kupahami.

Kini aku duduk di ruang inspirasi yang bentuknya seperti akuarium, karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca. Aku sedang satu garis lurus dengan dua “penulis gila” itu. Melihat wajah mereka yang benar-benar menandakan kecerdasan intelektual yang tinggi, kematangan berpikir, dan kekayaan jiwa yang meluap. Sesekali imajinasiku melompat terlalu jauh, mungkinkah mereka berjodoh? Pertanyaan gila memang, tapi apa yang salah dari pertanyaanku?

Terima kasih membuat emailku penuh dengan artikel kalian. Terima kasih membuat laptopku makin berharga karena pernah mereview dan mengedit artikel brilian kalian. Dan terima kasih banyak telah menjadi pelopor sekaligus dua orang pertama yang memanggilku “Bintang Bungsu”.

--------------------------
---------------***----------------------------------

Untuk “Penulis Gila” dengan ruang fikir yang tak pernah mati….
Linggar Jati Permana dan Haura Sekar Bianka
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here