Jejakmu...

Jejak kecil yang kau tinggalkan
Melemparkanku pada keajaiban penuh makna
Dan dengan segala cinta yang ku punya
Kubiarkan angan kita mengembara.


jejakmu masih tertinggal di sini...
jelas sekali...
sesekali ku lihat lekat...
sesekali ku acuhkan buang muka...

aku berusaha berlari menjauh...
tapi entah kenapa...
derap langkahku...
kembali membawaku menatap jejakmu...

sudah ku biarkan angan ini mengembara...
melewati tataran khatulistiwa...
menembus langit berjuta gemerlap...
tapi jejaknya tetap di sini...

Peluk...

Menahun kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja

Pelukku
Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku
Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran hati
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau dideranya

Kusadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama
Berdua namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau kulepas
Selamanya
Tak juga kupaksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau dideranya

Lepaskanku segenap hati dan jiwamu
Dan tak layak kau didera
Kau didera…

Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja
Pelukku


*"mengertilah walau hanya sedikit...",ucapku dulu...
namun kita tidak lagi...
aku tidak lagi butuh dimengerti...
biar saja...asa melambung...tapi kupastikan, kakiku tetap berpijak di bumi...

lalu kamu???
akan ku lepas saja...

sekali cinta...tetap cinta...

Masih menikmati begini...
dikelilingi oleh para pejuang pena...

Walau setiap malam harus berjuang membiarkan mata tetap terbuka...
tapi entah kenapa...rasanya luar biasa...

Cuma anak bungsu yang masih dikasih banyak kesempatan...
buat belajar dengan tekun..

Belajar mengetahui...sulitnya berjuang mencari berita...
susahnya mengemas berita jadi layak dipercaya...
setengah matinya memutar otak...menyampaikan informasi secara sehat...

ahhh...aku mencintai pekerjaan ini...
walau hanya lepas dan nyambi...

Sekali cinta...aku tetap cinta...

Menunggu

Bila menunggu satu purnama saja sudah terasa begitu sulit...
Bagaimana menunggu puluhan purnama...???

Ya lagi-lagi...ego harus dikubur dalam-dalam...
agar kekuatannya tak mengunci akal sehat dan kesabaran kita dalam ruang sempitnya...

Tapi...sisi hati yang lain berteriak-teriak...
Aku cuma manusia biasa...berdalih dengan seribu raut tak bersalah...

Ya...menunggu itu memang melelahkan...
Tapi ingatlah...
Hal yang indah itu datang tidak secara cuma-cuma..
melewati masa panjang dan penantian tersendiri...

Sama seperti saat Ali dengan ikhlas menunggu keberaniannya datang untk bisa melamar Fatimah...
Atau seperti Nabi Yusuf as yang dengan segala keikhlasan menjalani masa-masa penantian kebebasannya dari penjara...
Atau kah, mencontoh kesabaran Siti Sarah menanti buah hati yang lama diidamkan...
Dan, mencontek peristiwa kesabaran Siti hajar dan Nabi Ismail as yang menanti Nabi Ibrahim di tengah gurun pasir tak berpenghuni...

ya..ya...
Menunggu itu...
INDAH..

Melewati 2 Senja Lalu...

Melewati 2 senja lalu...

Baru saja ku kenal...
dalam nuansa abu-abu yang begitu pekat...
tanpa rasa untuk tahu...
tanpa tahu untuk apa...

Melewati 2 senja lalu...

Bertanya pada hati...
tentang segenap duga yang menyelimuti...
lalu dia memastikan hati...
bahwa dia ada disini...

Melewati 2 senja lalu...

Aku yang berdiri memandangi langit...
merasakan angin yang berhembus...
menikmati aroma tanah basah...
dalam hujan bersamanya...

Melewati 2 senja lalu...

Percaya atau tidak...
ini nyata tanpa reka...
tapi hati ini mulai bergerak...
ke arah rasa tak terduga...

Melewati 2 senja lalu...

Pernah ada ragu...
bahkan prasangka...
tapi matanya...
menguras habis ragu dan sangka...

Melewati 2 senja lalu...

Dengan 2 sensasi rasa...

Dengan 2 akhir...

Yang berbeda...

Tentang Rasa...

Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
‘tuk sejenak lelap di bahumu

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya


Lirik lagu astrid ini, entah kenapa jadi terasa aneh saya dengar.
Bukan karena lagunya tidak enak...tapi karena terjadi sesuatu di hati saya saat saya mendengarnya...

huft...

Sudahlah...

Thanks Astrid buat lagunya yang bagus...

Kesakitan Sang "Angsa Bengawan"

Pagi ini dapat postingan email dari seorang sahabat dekat di majalah. Isinya lumayan panjang, menceritakan kisahnya dengan calon nya. Awalnya saya menikmati membaca tiap katanya dengan penuh senyum, sampai pada akhirnya saya menemukan kalimat seperti ini...

"Tidak semuanya indah seperti rencana, hingga komitmen itu hancur karena sebuah pilihan yang menyakitkan, saya menganggapnya sebagai ketidak adilan atas cinta saya yang sudah saya peram agar manis diakhirnya bersamanya"

Tiba-tiba saja saya bisa merasakan kesakitan yang tertuang dalam surat elektronik itu. Saya membayangkan "angsa bengawan" yang biasanya periang itu, kini tengah menangis di atas bantalnya. Merasakan kesakitan akibat patahnya cinta yang nyaris membunuhnya seketika.

"Masa lalu itu memang tidak bisa dibeli, bila indah maka keindahannya tidak akan bisa terbeli bahkan oleh masa sekarang sekalipun. Bila menyakitkan maka kesakitannya akan terus terasa."

Bait diatas seketika membawa saya pada bayang-bayang masa lalu. Ya, masa lalu memang begitu adanya, selalu saja tak ingin ditinggalkan, menguntit ke sana kemari, mencoba terlihat untuk diingat dan dikenang.

"Dia yang saya percaya untuk menjaga hati saya, nyatanya mengalah pada masa lalu dan akhirnya membuang masa sekarangnya dengan segala pengakuan yang membuat saya tak bisa bernafas."

Ya Latief...apa ini? Kenapa Engkau mengarahkan pikirku pada kejadian akhir-akhir ini? Saya berusaha berpikir positif untuk tidak cepat mengambil kesimpulan atas apa yang saya ketahui masih sangat dangkal.

"Sulit melupakan cinta pertama yang terlalu memberi arti pada hati yang telah lama gersang. Saya menyadari benar hal itu, dan saya sangat mengerti. Tapi saya merasa ini tidak adil untuk saya. Karena saya harus terluka karena cinta masa lalunya."

Hatiku lantah seketika, akhirnya zihar sudah inti permasalahannya. Tapi sya tidak berani melanjutkan membaca email itu sampai ke ending nya. Saya mencoba menguatkan hati saya sendiri.

"De, apa saya salah bila saya merasa ini tidak adil untuk saya? Bukankah saya pantas marah dan kecewa atas semua perlakuannya? Saya tidak bisa merasakan apapun lagi kecuali keperihan yang teramat menyakitkan ini. Dari awal saya berkomitmen, tiduk untuk main-main layaknya remaja saat ini. Saya serius untuk melanjutkan semua ke arah yang lebih baik. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlanjur terjadi. Dia memilih kembali pada masa lalunya. Meninggalkan saya di persimpangan jalan yang sepi ini...sendirian."

Seperti memakan buah maja, pahit sekali saya membacanya...getir sekali apa yang tiba-tiba menyelinap ke kalbu saya. "Angsa bengawan" yang biasanya tegas dalam mengurai fakta soal kebusukan politik, kini harus tersungkur lemah pada kepahitan cinta.

Beberapa kali saya melihat mbakku sang "angsa bengawan" diantar jemput pangerannya itu. Mereka tampak begitu serasi. Mbak ku yang manis dengan perawakan ramping dan memepesona, dan pangerannya yang terlihat tegap dan penuh wibawa. Mereka sangat ideal untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih. Kami di kantor redaksi sudah memastikan mereka akan naik pelaminan awal tahun ini. Dan aku pernah mendengar pangeran itu mengiyakan.

Tapi rencana tak selalu berjalan mulus. Toh pada kenyataannya, saat ini semua sudah terbukti, bahwa dia lebih memilih cinta masa lalunya ketimbang gadis cantik dan baik hati seperti mbakku yang sudah hampir 3 tahun menyirami ketandusan hatinya yang pernah gagal dalam bercinta. Hati kecilku pun berkata, ini memang tidak adil untuk mbakku.

Tapi cobalah tengok kata-kata terakhirnya yang membuat saya makin mengaguminya...

"Jiwa ini memang kadang merana karena ditinggal cinta, tapi cinta sebetulnya tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya beranjak menemukan peraduan ternyamannya. Lalu memanggil kita kembali untuk merasakan mesranya. Saya hanya berpikir bahwa Allah mungkin mengatakan ini bukan yang terbaik untuk saya. Saya hanya kuat dengan keyakinan ini, bahwa entah diujung dunia mana dan garis waktu kapan, Allah sudah menyiapkan seorang pria terbaik untuk saya, pria yang saya harapkan manjadi kekasih saya dikehidupan setelah kematian, pria yang dengan tegas mampu memilih hidupnya untuk sebisa mungkin tak menyakiti hati siapa pun, pria yang siap menggenggam tangan saya menuju taman Firdaus-Nya. Saya sepenuhnya meyakini hal itu."

Kesakitan yang saya rasakan di dua malam ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan yang menyayat yang dirasakan sang "angsa bengawan". Untukmu salah satu penulis terbaik di kawanan "Para Penjelajah", saya tidak akan pernah lelah menyebut namamu dalam setiap doa-doa saya. Semoga Allah membahagiakanmu mbak.
advertise here
advertise here
advertise here
advertise here